"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. " QS. Al An'aam ayat 82



SPOTLITE
News Stream

Rabu, 01 Juli 2015

KIBLAT.NET, Aceh Timur – Anda boleh tak percaya, tapi Tim Posko Kesehatan kamp pengungsi Rohingya di Bireun Bayeun, Aceh Timur ternyata tak melulu menghadapi penyakit medis. Kadang kala mereka juga menghadapi penyakit non-medis.

Hal itu diungkapkan wakil koordinator Posko Kesehatan, Jeni Hartati Ginting kepada Kiblat.net, di kamp pengungsi Pengungsi Rohingya, Bayeun, Bireum, Aceh Timur, Rabu (01/07).

“Ada satu pengungsi yang diruqyah,” katanya.

Salah seorang pengungsi bernama Muhammad Taher, lanjutnya, diarahkan untuk diruqyah karena berperilaku tidak sewajarnya, seperti sering tertawa sendiri, mengamuk, dan banyak melamun.

Pengungsi berpenampilan flamboyan itu mulai berperilaku aneh, sejak perkenalannya dengan seorang perempuan Aceh yang berkunjung ke kamp.

“Wanita itu sering membawakan hadiah dan sirih,” ujarnya.

Singkat cerita, lanjut Jeni, Taher menjalin kedekatan personal dengan perempuan bernama Ita tersebut. Mereka sering berhubungan lewat telepon genggam. “Udah i love you.. i love you-an gitu di HP,” cetusnya.

Nahas bagi Taher, petugas kamp merazia ponsel yang dimiliki para pengungsi. Warga Rohingya dinilai sudah terlalu bebas menggunakan ponsel di kamp karantina.

“Sejak HP nya diambil, Taher mulai banyak melamun. Bahkan ngamuk-ngamuk, sampai dipegangi 15 orang tidak sanggup,” papar Jeni.

Posko kesehatan Aceh Timur

Segala upaya dilakukan Jeni dan posko kesehatan untuk memulihkan Taher, mulai dari meminta bantuan relawan pria sampai dengan memanggil dukun dari desa sekitar, tapi tak ada hasil yang signifikan.

“Sama orang pintar, sembuh hari itu saja, besoknya kumat lagi,” katanya.

Hingga akhirnya, Jeni melapor kepada ketua Tim Hilal Ahmar Jakarta, Abu Ahmad. Taher akhirnya diarahkan untuk diruqyah, kemudian Abu Ahmad pun meruqyah Taher secara berkala. Saat diruqyah, Taher menampakkan gejala-gejala gangguan jin dengan amukan amarah.

“Setelah diruqyah, Taher sudah baikan. Tidak lagi melamun dan mengamuk, kalau ketemu saya dia nunduk malu Biasanya ketemu saya selalu menanyakan hape-nya yang disita,” tandas Jeni.

Jeni sendiri mengaku sudah meminta pengungsi untuk memberitahukan bpada dirinya bila wanita Aceh bernama Ita itu datang ke kamp. Akan tetapi, sejak peristiwa kesurupan Taher, wanita itu tidak pernah kembali ke kamp.

Terapi ruqyah adalah salah satu layanan yang disediakan oleh Hilal Ahmar Jakarta bagi pengungsi Rohingya. Selain, bantuan medis dan makanan, ungkap Abu Ahmad.

Bagi umat Islam yang ingin turut berpartisipasi memberikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya, dapat mengirim ke rekening BSM a/n: Yayasan Hilal Ahmar Jakarta dengan No Rekening: 1160026634 KCP Cililitan.

 

Ditulis oleh: Bilal Muhammad dari kamp pengungsi Rohingya, Aceh Timur

Editor: Fajar Shadiq

Sirih Gadis Aceh Bikin Pemuda Rohingya Ini Harus Diruqyah

KIBLAT.NET, Aceh Timur – Anda boleh tak percaya, tapi Tim Posko Kesehatan kamp pengungsi Rohingya di Bireun Bayeun, Aceh Timur ternyata tak melulu menghadapi penyakit medis. Kadang kala mereka juga menghadapi penyakit non-medis.

Hal itu diungkapkan wakil koordinator Posko Kesehatan, Jeni Hartati Ginting kepada Kiblat.net, di kamp pengungsi Pengungsi Rohingya, Bayeun, Bireum, Aceh Timur, Rabu (01/07).

“Ada satu pengungsi yang diruqyah,” katanya.

Salah seorang pengungsi bernama Muhammad Taher, lanjutnya, diarahkan untuk diruqyah karena berperilaku tidak sewajarnya, seperti sering tertawa sendiri, mengamuk, dan banyak melamun.

Pengungsi berpenampilan flamboyan itu mulai berperilaku aneh, sejak perkenalannya dengan seorang perempuan Aceh yang berkunjung ke kamp.

“Wanita itu sering membawakan hadiah dan sirih,” ujarnya.

Singkat cerita, lanjut Jeni, Taher menjalin kedekatan personal dengan perempuan bernama Ita tersebut. Mereka sering berhubungan lewat telepon genggam. “Udah i love you.. i love you-an gitu di HP,” cetusnya.

Nahas bagi Taher, petugas kamp merazia ponsel yang dimiliki para pengungsi. Warga Rohingya dinilai sudah terlalu bebas menggunakan ponsel di kamp karantina.

“Sejak HP nya diambil, Taher mulai banyak melamun. Bahkan ngamuk-ngamuk, sampai dipegangi 15 orang tidak sanggup,” papar Jeni.

Posko kesehatan Aceh Timur

Segala upaya dilakukan Jeni dan posko kesehatan untuk memulihkan Taher, mulai dari meminta bantuan relawan pria sampai dengan memanggil dukun dari desa sekitar, tapi tak ada hasil yang signifikan.

“Sama orang pintar, sembuh hari itu saja, besoknya kumat lagi,” katanya.

Hingga akhirnya, Jeni melapor kepada ketua Tim Hilal Ahmar Jakarta, Abu Ahmad. Taher akhirnya diarahkan untuk diruqyah, kemudian Abu Ahmad pun meruqyah Taher secara berkala. Saat diruqyah, Taher menampakkan gejala-gejala gangguan jin dengan amukan amarah.

“Setelah diruqyah, Taher sudah baikan. Tidak lagi melamun dan mengamuk, kalau ketemu saya dia nunduk malu Biasanya ketemu saya selalu menanyakan hape-nya yang disita,” tandas Jeni.

Jeni sendiri mengaku sudah meminta pengungsi untuk memberitahukan bpada dirinya bila wanita Aceh bernama Ita itu datang ke kamp. Akan tetapi, sejak peristiwa kesurupan Taher, wanita itu tidak pernah kembali ke kamp.

Terapi ruqyah adalah salah satu layanan yang disediakan oleh Hilal Ahmar Jakarta bagi pengungsi Rohingya. Selain, bantuan medis dan makanan, ungkap Abu Ahmad.

Bagi umat Islam yang ingin turut berpartisipasi memberikan bantuan kepada para pengungsi Rohingya, dapat mengirim ke rekening BSM a/n: Yayasan Hilal Ahmar Jakarta dengan No Rekening: 1160026634 KCP Cililitan.

 

Ditulis oleh: Bilal Muhammad dari kamp pengungsi Rohingya, Aceh Timur

Editor: Fajar Shadiq

Posted at 01.56 |  by Harian Muslim

Bogor (SI Online) - Artis Sherina Munaf, putri dari salah seorang tim sukses Presiden Jokowi yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, secara terbuka melalui akun twitternya, @sherinasinna, mendukung legalisasi perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat. Bukan hanya itu dia juga bermimpi bila ke depan legalisasi itu dilakukan di seluruh dunia.

Menanggapi kicauan akun twitter Sherina yang memiliki follower 9,6 juta itu, Ketua MUI Pusat KH Muhyidin Junaedi mengungkapkan harus diklarifikasi terlebih dahulu kebenaran pernyataan itu. Apakah disampaikan dalam kondisi sadar atau di luar kesadaran.

"Kalau betul, itu provokasi yang butuh ditanggapi. Yang menanggapi memang jangan MUI dulu, tapi seperti gerakan-gerakan atau laskar-laskar dulu, nanti kalau masalah sudah besar baru MUI," kata Muhyidin saat berbincang dengan sejumlah media Islam di Bogor, Selasa (30/06).

Secara khusus, Ketua Bidang Hubungan Luar Negari dan Kerjasama Internasional MUI Pusat ini menasehati Sherina dan seluruh WNI yang sudah terprovokasi soal LGBT ini agar kembali kepada fitrah manusia.

"Agar mereka berpikir ulang bahwa terjadinya bencana laut mati di Yordan dan Israel tidak lepas dari perilaku homoseksualisme. Nah (kalau perkawinan sesama jenis dilegalkan) nanti kita akan menciptakan laut-laut mati di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, musikus Sherina Munaf mendapat sorotan di lini masa. Itu setelah dia menyatakan dukungannya terhadap kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) pasca pemerintah Amerika Serikat membolehkan pernikahan sejenis, yang hal itu disambut penuh suka cita kaum LGBT.

Ternyata, Sherina juga mendukung pernikahan sesama jenis tersebut. "Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights", kicau Sherina melalui akun twitternya, Ahad (28/06) lalu.

Bila diterjemahkan kicauan itu kira-kira begini, "Banzai! Pernikahan sesama jenis kini legal di  Amerika Serikat. Mimpi: berikutnya, di seluruh dunia! Di manapun Anda berada, bangga siapa Anda. #LGBTRights."

red: shodiq ramadhan

Nasehat MUI untuk Sherina, Kembalilah ke Fitrah Manusia!

Bogor (SI Online) - Artis Sherina Munaf, putri dari salah seorang tim sukses Presiden Jokowi yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, secara terbuka melalui akun twitternya, @sherinasinna, mendukung legalisasi perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat. Bukan hanya itu dia juga bermimpi bila ke depan legalisasi itu dilakukan di seluruh dunia.

Menanggapi kicauan akun twitter Sherina yang memiliki follower 9,6 juta itu, Ketua MUI Pusat KH Muhyidin Junaedi mengungkapkan harus diklarifikasi terlebih dahulu kebenaran pernyataan itu. Apakah disampaikan dalam kondisi sadar atau di luar kesadaran.

"Kalau betul, itu provokasi yang butuh ditanggapi. Yang menanggapi memang jangan MUI dulu, tapi seperti gerakan-gerakan atau laskar-laskar dulu, nanti kalau masalah sudah besar baru MUI," kata Muhyidin saat berbincang dengan sejumlah media Islam di Bogor, Selasa (30/06).

Secara khusus, Ketua Bidang Hubungan Luar Negari dan Kerjasama Internasional MUI Pusat ini menasehati Sherina dan seluruh WNI yang sudah terprovokasi soal LGBT ini agar kembali kepada fitrah manusia.

"Agar mereka berpikir ulang bahwa terjadinya bencana laut mati di Yordan dan Israel tidak lepas dari perilaku homoseksualisme. Nah (kalau perkawinan sesama jenis dilegalkan) nanti kita akan menciptakan laut-laut mati di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, musikus Sherina Munaf mendapat sorotan di lini masa. Itu setelah dia menyatakan dukungannya terhadap kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) pasca pemerintah Amerika Serikat membolehkan pernikahan sejenis, yang hal itu disambut penuh suka cita kaum LGBT.

Ternyata, Sherina juga mendukung pernikahan sesama jenis tersebut. "Banzai! Same sex marriage is now legal across the US. The dream: next, world! Wherever you are, be proud of who you are. #LGBTRights", kicau Sherina melalui akun twitternya, Ahad (28/06) lalu.

Bila diterjemahkan kicauan itu kira-kira begini, "Banzai! Pernikahan sesama jenis kini legal di  Amerika Serikat. Mimpi: berikutnya, di seluruh dunia! Di manapun Anda berada, bangga siapa Anda. #LGBTRights."

red: shodiq ramadhan

Posted at 01.51 |  by Harian Muslim

Jakarta (SI Online) - Yayasan Daarul Qur'an Indonesia, dipilih oleh Al-Haiah Al-'Alamiyyah Li Tahfizhil Quran, lembaga tahfidz internasional, sebagai yayasan Al-Qur'an terbaik di dunia. Yayasan yang didirikan oleh Ustaz Yusuf Mansur ini menyisihkan perwakilan 65 negara yang ikut dalam lembaga tersebut. 

Berbagai ikhtiar yang dilakukan dalam usaha menciptakan para penghafal Al-Qur'an di Indonesia lewat sejumlah program seperti pendirian pondok pesantren tahfidz, gerakan rumah tahfidz dan metode menghafal One Day One Ayat membuat Daarul Qur'an terpilih menjadi yang terbaik dalam kategori yayasan Al-Quran terbaik di dunia. 

Terkait penghargaan ini ustadz Yusuf Mansur, jelang keberangkatannya ke Jeddah untuk menerima penghargaan, mengatakan selain menjadi motivasi dan kebanggan buat Daarul Qur'an dan Indonesia juga harus dijadikan bahan instrospeksi. 

"Disatu sisi kita beryukur kini Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara pengiri tenaga kerja di Timur Tengah, namun disaat bersamaan kita juga harus beristigfar dan banyak-banyak memuji Allah swt" ujar Ustaz Yusuf Mansur, Sabtu (27/6). 

"Penghargaan ini juga tidak saya dedikasikan kepada keluarga besar Daarul Qur'an saja tetapi bagi mereka semua yang berkhidmat dalam dakwah Al-Quran" tambahnya. 

Penganugerahan akan dilakukan pada tanggal 12 Ramadhan bertepatan dengan 29 Juni 2015, oleh Imam-imam masjid Masjidil Harom dan Masjid Nabawi. Selain Ustaz Yusuf Mansur berangkat juga bersama rombongan ustadz Ahma Jameel, pimpinan harian ponpes tahfidz Daarul Qur'an dan Ustadz Selamet ibnu Syam selaku pengasuh ponpes tahfidz Daarul Qur'an.

Penghargaan ini juga menjadi kado jelang milad ke 12 Daarul Qur'an yang jatuh pada tanggal 5 Juli 2015. Lewat lembaga ini Ustaz Yusuf Mansur bertekad untuk mencetak sebanyak-banyaknya penghafal Al-Qur'an di Indonesia.

red: adhila

sumber: pppa.or.id

Selamat, Daarul Quran Terima Anugerah Lembaga Tahfizh Terbaik Sedunia

Jakarta (SI Online) - Yayasan Daarul Qur'an Indonesia, dipilih oleh Al-Haiah Al-'Alamiyyah Li Tahfizhil Quran, lembaga tahfidz internasional, sebagai yayasan Al-Qur'an terbaik di dunia. Yayasan yang didirikan oleh Ustaz Yusuf Mansur ini menyisihkan perwakilan 65 negara yang ikut dalam lembaga tersebut. 

Berbagai ikhtiar yang dilakukan dalam usaha menciptakan para penghafal Al-Qur'an di Indonesia lewat sejumlah program seperti pendirian pondok pesantren tahfidz, gerakan rumah tahfidz dan metode menghafal One Day One Ayat membuat Daarul Qur'an terpilih menjadi yang terbaik dalam kategori yayasan Al-Quran terbaik di dunia. 

Terkait penghargaan ini ustadz Yusuf Mansur, jelang keberangkatannya ke Jeddah untuk menerima penghargaan, mengatakan selain menjadi motivasi dan kebanggan buat Daarul Qur'an dan Indonesia juga harus dijadikan bahan instrospeksi. 

"Disatu sisi kita beryukur kini Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara pengiri tenaga kerja di Timur Tengah, namun disaat bersamaan kita juga harus beristigfar dan banyak-banyak memuji Allah swt" ujar Ustaz Yusuf Mansur, Sabtu (27/6). 

"Penghargaan ini juga tidak saya dedikasikan kepada keluarga besar Daarul Qur'an saja tetapi bagi mereka semua yang berkhidmat dalam dakwah Al-Quran" tambahnya. 

Penganugerahan akan dilakukan pada tanggal 12 Ramadhan bertepatan dengan 29 Juni 2015, oleh Imam-imam masjid Masjidil Harom dan Masjid Nabawi. Selain Ustaz Yusuf Mansur berangkat juga bersama rombongan ustadz Ahma Jameel, pimpinan harian ponpes tahfidz Daarul Qur'an dan Ustadz Selamet ibnu Syam selaku pengasuh ponpes tahfidz Daarul Qur'an.

Penghargaan ini juga menjadi kado jelang milad ke 12 Daarul Qur'an yang jatuh pada tanggal 5 Juli 2015. Lewat lembaga ini Ustaz Yusuf Mansur bertekad untuk mencetak sebanyak-banyaknya penghafal Al-Qur'an di Indonesia.

red: adhila

sumber: pppa.or.id

Posted at 01.48 |  by Harian Muslim

Selasa, 30 Juni 2015

dakwatuna.com – Jakarta.  Saat bulan puasa, orang akan bangun tidur beberapa jam lebih awal dari biasanya untuk makan sahur. Setelah sahur dan shalat subuh, banyak orang yang langsung tidur kembali. Apalagi mereka yang harus bekerja pada pagi harinya. Ini bisa dimaklumi, karena waktu tidur terpotong oleh sahur.

Namun, langsung tidur setelah sahur tidak baik bagi kesehatan. Praktisi Gizi Klinik dan Olahraga, Rita Ramayulis SCN, M.Kes mengungkapkan, makanan yang baru masuk ke dalam tubuh harus dicerna terlebih dahulu. Jika langsung tidur, sistem pencernaan tidak akan bekerja dengan baik.

“Kalau kita langsung tidur, oksigen berpindah ke lambung semua. Kita bawa tidur semakin tidak bisa lambung bekerja dengan cepat. Oksigen di otak juga jadi berkurang,” terang Rita dalam acara Sequis di Jakarta, Jumat (27/6/2015), ditkutip dari tribunnews.com

Akibatnya, saat bangun tidur perut terasa penuh, sakit perut, juga pusing. Selain itu, makanan yang belum dicerna bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan ketika dalam posisi tidur.

Rita menjelaskan, makanan seperti karbohidrat akan dicerna selama dua jam. Maka, setelah itu isi di lambung telah berkurang. Sementara itu, protein butuh waktu tiga jam dan lemak selama empat jam untuk bisa dicerna dalam tubuh.

“Jadi minimal setelah dua jam baru tidur lagi. Saat itu isi lambung sudah berkurang,” imbuh Rita.

Bagaimana jika tidur dilakukan dengan posisi duduk? Menurut Rita, hal ini juga akan menghambat kerja lambung setelah makan. Saat tidur, semua organ tubuh pun beristirahat. Bahkan, menurut Rita, ketika seseorang sahur dalam porsi makan yang cukup banyak, sebaiknya tidak tidur lagi setelah sahur.

Menjaga tubuh tetap bugar memang menjadi hal penting selama berpuasa agar kita tetap dapat melaksanakan aktifitas seperti biasa.

Dikutip dari sindonews.com, Menurut dr. Rizal Al Idrus, menjaga pola istirahat merupakan salah satu kunci untuk tetap bugar saat menjalani puasa.

Tidak hanya pola istirahat, pola makan juga harus diperhatikan. Agar tidak cepat mengantuk setelah sahur, Rizal menyarankan untuk menghindari konsumsi gula dan karbohidrat berlebih. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Sering ditanya: Mengapa Kebiasaan Tidur setelah Sahur Tidak Baik Bagi Kesehatan?

dakwatuna.com – Jakarta.  Saat bulan puasa, orang akan bangun tidur beberapa jam lebih awal dari biasanya untuk makan sahur. Setelah sahur dan shalat subuh, banyak orang yang langsung tidur kembali. Apalagi mereka yang harus bekerja pada pagi harinya. Ini bisa dimaklumi, karena waktu tidur terpotong oleh sahur.

Namun, langsung tidur setelah sahur tidak baik bagi kesehatan. Praktisi Gizi Klinik dan Olahraga, Rita Ramayulis SCN, M.Kes mengungkapkan, makanan yang baru masuk ke dalam tubuh harus dicerna terlebih dahulu. Jika langsung tidur, sistem pencernaan tidak akan bekerja dengan baik.

“Kalau kita langsung tidur, oksigen berpindah ke lambung semua. Kita bawa tidur semakin tidak bisa lambung bekerja dengan cepat. Oksigen di otak juga jadi berkurang,” terang Rita dalam acara Sequis di Jakarta, Jumat (27/6/2015), ditkutip dari tribunnews.com

Akibatnya, saat bangun tidur perut terasa penuh, sakit perut, juga pusing. Selain itu, makanan yang belum dicerna bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan ketika dalam posisi tidur.

Rita menjelaskan, makanan seperti karbohidrat akan dicerna selama dua jam. Maka, setelah itu isi di lambung telah berkurang. Sementara itu, protein butuh waktu tiga jam dan lemak selama empat jam untuk bisa dicerna dalam tubuh.

“Jadi minimal setelah dua jam baru tidur lagi. Saat itu isi lambung sudah berkurang,” imbuh Rita.

Bagaimana jika tidur dilakukan dengan posisi duduk? Menurut Rita, hal ini juga akan menghambat kerja lambung setelah makan. Saat tidur, semua organ tubuh pun beristirahat. Bahkan, menurut Rita, ketika seseorang sahur dalam porsi makan yang cukup banyak, sebaiknya tidak tidur lagi setelah sahur.

Menjaga tubuh tetap bugar memang menjadi hal penting selama berpuasa agar kita tetap dapat melaksanakan aktifitas seperti biasa.

Dikutip dari sindonews.com, Menurut dr. Rizal Al Idrus, menjaga pola istirahat merupakan salah satu kunci untuk tetap bugar saat menjalani puasa.

Tidak hanya pola istirahat, pola makan juga harus diperhatikan. Agar tidak cepat mengantuk setelah sahur, Rizal menyarankan untuk menghindari konsumsi gula dan karbohidrat berlebih. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Posted at 00.00 |  by Harian Muslim

Senin, 29 Juni 2015

Bismillah walhamdulillah wah shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, dalam syari’at Islam yang mulia, telah dijelaskan adanya beberapa tempat dan bulan yang memiliki kemuliaan, di antaranya adalah bulan Ramadhan yang sedang kita hadapi ini.

Suatu sikap yang baik bagi seorang muslim adalah memuliakan sesuatu yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, termasuk memuliakan bulan Ramadhan ini. Sikap memuliakannya adalah berusaha melakukan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah dan menjauhi semua kemaksiatan di bulan ini. Nah, lalu apakah yang akan didapatkan seseorang ketika melakukan ketaatan atau kemaksiatan di bulan ini?

Berikut ini fatwa tentang apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan? Jika jawabannya ya, lalu apakah hal itu berlaku juga untuk bulan-bulan yang memiliki keutamaan selain bulan Ramadhan? Bagaimana jika melakukan ketaatan dan kemaksiatan di tempat-tempat yang memiliki keutamaan?

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah

Fatwa no. 38213: Apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan?

Apakah benar bahwa keburukan dilipatgandakan di bulan Ramadhan, sebagaimana kebaikan dilipatgandakan juga? Apakah ada dalil yang menunjukkan hal itu?

Jawab:

“Segala puji bagi Allah, benar, kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada waktu dan tempat yang utama, akan tetapi di sana ada perbedaan antara pelipatgandaan kebaikan dengan pelipatgandaan keburukan. Adapun pelipatgandaan kebaikan adalah pelipatgandaan kuantitas dan kualitas. Maksud dari kuantitas adalah bilangan, sehingga satu kebaikan (dilipatgandakan) menjadi sepuluh kali lipat atau lebih. Sedangkan yang dimaksud dengan (pelipatgandaan) kualitas adalah pahalanya lebih besar dan lebih banyak. Adapun keburukan, maka pelipatgandaannya dalam kualitas saja, bahwa dosanya lebih besar dan siksanya lebih berat, namun dari sisi bilangan, maka satu keburukan dihitung satu (kesalahan) saja, tidak mungkin dihitung lebih dari satu kesalahan.”

Disebutkan dalam kitab Mathalib Ulin Nuha (2/385) :

(وتضاعف الحسنة والسيئة بمكان فاضل كمكة والمدينة وبيت المقدس وفي المساجد، وبزمان فاضل كيوم الجمعة، والأشهر الحرم ورمضان. أما مضاعفة الحسنة: فهذا مما لا خلاف فيه، وأما مضاعفة السيئة، فقال بها جماعة تبعا لابن عباس وابن مسعود . . . وقال بعض المحققين: قول ابن عباس وابن مسعود في تضعيف السيئات: إنما أرادوا مضاعفتها في الكيفية دون الكمية ) اهـ .

“Kebaikan dan keburukan menjadi berlipatganda pada tempat mulia seperti Mekah, Madinah, Baitul Maqdis dan di masjid. Dan (berlipatganda pula) di waktu yang mulia seperti pada hari jum’at, bulan-bulan haram dan Ramadhan. Adapun pelipatgandaan kebaikan, maka ini adalah perkara yang tidak ada perselisihan (di antara ulama) tentangnya. Adapun pelipatgandaan keburukan, maka sekelompok ulama menyatakan hal itu, mereka mengikuti (pendapat) Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud…. dan berkata sebagian ulama peneliti perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dalam pelipatgandaan keburukan mereka hanyalah memaksudkannya sebagai (pelipatgandaan) kualitas dan bukan kuantitas”.

Syaikh Bin Baz rahimahullah  pernah ditanya, “Apakah puasa menyebabkan seorang muslim mendapatkan peleburan dosanya, baik kecil maupun besar? Apakah dosa bisa berlipatganda saat bulan Ramadhan?”.

Beliau menjawab, “perkara yang disyari’atkan bagi seorang muslim pada bulan Ramadhan dan di bulan selainnya adalah berjihad menundukkan jiwa yang banyak menyuruh kepada keburukan sehingga menjadi jiwa yang tenang, yang suka memerintahkan kebaikan dan mencintainya. Wajib baginya berjihad memerangi musuh Allah, yaitu iblis, hingga selamat dari kejahatannya dan tipu dayanya. Maka seorang muslim di dunia ini berada di dalam aktifitas jihad yang besar secara terus menerus, baik melawan jiwa (yang buruk), hawa nafsu, maupun setan. Hendaklah ia memperbanyak taubat dan istighfar pada setiap waktu dan kesempatan, akan tetapi waktu itu berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia dalam setahun, ia merupakan bulan ampunan, rahmat dan pembebasan dari api Neraka. Jika suatu bulan itu memiliki keutamaan dan suatu tempat itu memiliki keutamaan maka dilipatgandakan kebaikan-kebaikan (di dalamnya), dan menjadi besar dosa keburukan-keburukan (yang dilakukan di dalamnya). Jadi satu keburukan yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya daripada satu keburukan yang dilakukan di luar Ramadhan, sebagaimana satu ketaatan yang dilakukan di bulan Ramadhan lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada satu ketaatan  yang dilakukan di luar Ramadhan.

Ketika (sudah diketahui bahwa) Ramadhan memiliki kedudukan yang agung, maka tentunya ketaatan yang dilakukan di dalam bulan tersebut memiliki keutamaan yang agung dan berlipat ganda pula dengan kelipatan yang banyak, sedangkan dosa maksiat yang dilakukan di dalamnya lebih parah dan lebih besar dosanya dibandingkan dengan dosa yang dikerjakan di bulan selainnya. Maka, seorang muslim hendaknya mengambil kesempatan di bulan yang diberkahi ini dengan melakukan ketaatan dan amal shalih serta berhenti dari melakukan keburukan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepadanya penerimaan amal dan memberi taufik agar istiqamah di atas (jalan) kebenaran. Akan tetapi, (kalau) keburukan/dosa, tetaplah semisal kemaksiatannya, tidak dilipatgandakan dalam jumlah, tidak di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan selainnya. Adapun kebaikan, maka dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya sampai berlipat-lipat ganda dengan kelipatan yang banyak, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-An’aam:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Al-An’aam :160).

Dan Ayat-Ayat yang semakna dengannya banyak jumlahnya. Demikian pula terkait dengan tempat yang mulia, seperti dua tanah haram yang mulia (Mekah dan Madinah), (kebaikan) dilipatgandakan di kedua tempat tersebut dengan kelipatan yang banyak, baik itu secara kuantitas maupun secara kualitas. Adapun keburukan, maka tidak dilipatgandakan secara kuantitas, namun dilipatgandakan secara kualitas (jika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia, sebagaimana telah berlalu isyarat akan hal itu, wallahu waliyyut taufiq”. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat mutanawwi’ah 15/446).

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam “As-Syarhul Mumti’ (7/262) mengatakan kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada tempat dan waktu yang mulia. Kebaikan dilipatgandakan dengan (pelipatgandaan) kuantitas dan kualitas, adapun keburukan,maka dengan pelipatgandaan kualitas, bukan dengan kuantitas .

Karena Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’aam -surat ini adalah surat Makkiyyah- :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (An-An’aam : 160)

Dan Allah berfirman:

{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (Al-Hajj:25) [1],

(Di dalam Ayat ini) Allah  tidaklah berfirman “(niscaya) Kami lipatgandakannya untuknya,” namun berfirman

{نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”

“Maka, (kesimpulannya) pelipatgandaan keburukan di Mekah atau di Madinah adalah pelipatgandaan kualitas. [Maksudnya: Siksanya lebih pedih dan menyakitkan, (hal ini) berdasarkan firman Allah Ta’ala”

{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ }

“Barang siapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. (Al-Hajj:25)[3].

Wallahu a’lam”. 

***

Catatan kaki

[1] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam

[2] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam

___

Sumber: Islamqa.info/ar/38213[1]

Penerjemah: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Sering ditanya: Apakah Dosa Dilipatgandakan Di Bulan Dan Tempat Yang Mulia?

Bismillah walhamdulillah wah shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, dalam syari’at Islam yang mulia, telah dijelaskan adanya beberapa tempat dan bulan yang memiliki kemuliaan, di antaranya adalah bulan Ramadhan yang sedang kita hadapi ini.

Suatu sikap yang baik bagi seorang muslim adalah memuliakan sesuatu yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, termasuk memuliakan bulan Ramadhan ini. Sikap memuliakannya adalah berusaha melakukan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah dan menjauhi semua kemaksiatan di bulan ini. Nah, lalu apakah yang akan didapatkan seseorang ketika melakukan ketaatan atau kemaksiatan di bulan ini?

Berikut ini fatwa tentang apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan? Jika jawabannya ya, lalu apakah hal itu berlaku juga untuk bulan-bulan yang memiliki keutamaan selain bulan Ramadhan? Bagaimana jika melakukan ketaatan dan kemaksiatan di tempat-tempat yang memiliki keutamaan?

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah

Fatwa no. 38213: Apakah keburukan dan kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan?

Apakah benar bahwa keburukan dilipatgandakan di bulan Ramadhan, sebagaimana kebaikan dilipatgandakan juga? Apakah ada dalil yang menunjukkan hal itu?

Jawab:

“Segala puji bagi Allah, benar, kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada waktu dan tempat yang utama, akan tetapi di sana ada perbedaan antara pelipatgandaan kebaikan dengan pelipatgandaan keburukan. Adapun pelipatgandaan kebaikan adalah pelipatgandaan kuantitas dan kualitas. Maksud dari kuantitas adalah bilangan, sehingga satu kebaikan (dilipatgandakan) menjadi sepuluh kali lipat atau lebih. Sedangkan yang dimaksud dengan (pelipatgandaan) kualitas adalah pahalanya lebih besar dan lebih banyak. Adapun keburukan, maka pelipatgandaannya dalam kualitas saja, bahwa dosanya lebih besar dan siksanya lebih berat, namun dari sisi bilangan, maka satu keburukan dihitung satu (kesalahan) saja, tidak mungkin dihitung lebih dari satu kesalahan.”

Disebutkan dalam kitab Mathalib Ulin Nuha (2/385) :

(وتضاعف الحسنة والسيئة بمكان فاضل كمكة والمدينة وبيت المقدس وفي المساجد، وبزمان فاضل كيوم الجمعة، والأشهر الحرم ورمضان. أما مضاعفة الحسنة: فهذا مما لا خلاف فيه، وأما مضاعفة السيئة، فقال بها جماعة تبعا لابن عباس وابن مسعود . . . وقال بعض المحققين: قول ابن عباس وابن مسعود في تضعيف السيئات: إنما أرادوا مضاعفتها في الكيفية دون الكمية ) اهـ .

“Kebaikan dan keburukan menjadi berlipatganda pada tempat mulia seperti Mekah, Madinah, Baitul Maqdis dan di masjid. Dan (berlipatganda pula) di waktu yang mulia seperti pada hari jum’at, bulan-bulan haram dan Ramadhan. Adapun pelipatgandaan kebaikan, maka ini adalah perkara yang tidak ada perselisihan (di antara ulama) tentangnya. Adapun pelipatgandaan keburukan, maka sekelompok ulama menyatakan hal itu, mereka mengikuti (pendapat) Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud…. dan berkata sebagian ulama peneliti perkataan Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dalam pelipatgandaan keburukan mereka hanyalah memaksudkannya sebagai (pelipatgandaan) kualitas dan bukan kuantitas”.

Syaikh Bin Baz rahimahullah  pernah ditanya, “Apakah puasa menyebabkan seorang muslim mendapatkan peleburan dosanya, baik kecil maupun besar? Apakah dosa bisa berlipatganda saat bulan Ramadhan?”.

Beliau menjawab, “perkara yang disyari’atkan bagi seorang muslim pada bulan Ramadhan dan di bulan selainnya adalah berjihad menundukkan jiwa yang banyak menyuruh kepada keburukan sehingga menjadi jiwa yang tenang, yang suka memerintahkan kebaikan dan mencintainya. Wajib baginya berjihad memerangi musuh Allah, yaitu iblis, hingga selamat dari kejahatannya dan tipu dayanya. Maka seorang muslim di dunia ini berada di dalam aktifitas jihad yang besar secara terus menerus, baik melawan jiwa (yang buruk), hawa nafsu, maupun setan. Hendaklah ia memperbanyak taubat dan istighfar pada setiap waktu dan kesempatan, akan tetapi waktu itu berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia dalam setahun, ia merupakan bulan ampunan, rahmat dan pembebasan dari api Neraka. Jika suatu bulan itu memiliki keutamaan dan suatu tempat itu memiliki keutamaan maka dilipatgandakan kebaikan-kebaikan (di dalamnya), dan menjadi besar dosa keburukan-keburukan (yang dilakukan di dalamnya). Jadi satu keburukan yang dilakukan pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya daripada satu keburukan yang dilakukan di luar Ramadhan, sebagaimana satu ketaatan yang dilakukan di bulan Ramadhan lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada satu ketaatan  yang dilakukan di luar Ramadhan.

Ketika (sudah diketahui bahwa) Ramadhan memiliki kedudukan yang agung, maka tentunya ketaatan yang dilakukan di dalam bulan tersebut memiliki keutamaan yang agung dan berlipat ganda pula dengan kelipatan yang banyak, sedangkan dosa maksiat yang dilakukan di dalamnya lebih parah dan lebih besar dosanya dibandingkan dengan dosa yang dikerjakan di bulan selainnya. Maka, seorang muslim hendaknya mengambil kesempatan di bulan yang diberkahi ini dengan melakukan ketaatan dan amal shalih serta berhenti dari melakukan keburukan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepadanya penerimaan amal dan memberi taufik agar istiqamah di atas (jalan) kebenaran. Akan tetapi, (kalau) keburukan/dosa, tetaplah semisal kemaksiatannya, tidak dilipatgandakan dalam jumlah, tidak di bulan Ramadhan dan tidak pula di bulan selainnya. Adapun kebaikan, maka dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya sampai berlipat-lipat ganda dengan kelipatan yang banyak, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-An’aam:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (Al-An’aam :160).

Dan Ayat-Ayat yang semakna dengannya banyak jumlahnya. Demikian pula terkait dengan tempat yang mulia, seperti dua tanah haram yang mulia (Mekah dan Madinah), (kebaikan) dilipatgandakan di kedua tempat tersebut dengan kelipatan yang banyak, baik itu secara kuantitas maupun secara kualitas. Adapun keburukan, maka tidak dilipatgandakan secara kuantitas, namun dilipatgandakan secara kualitas (jika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia, sebagaimana telah berlalu isyarat akan hal itu, wallahu waliyyut taufiq”. (Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat mutanawwi’ah 15/446).

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam “As-Syarhul Mumti’ (7/262) mengatakan kebaikan dan keburukan dilipatgandakan pada tempat dan waktu yang mulia. Kebaikan dilipatgandakan dengan (pelipatgandaan) kuantitas dan kualitas, adapun keburukan,maka dengan pelipatgandaan kualitas, bukan dengan kuantitas .

Karena Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’aam -surat ini adalah surat Makkiyyah- :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (An-An’aam : 160)

Dan Allah berfirman:

{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Barangsiapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (Al-Hajj:25) [1],

(Di dalam Ayat ini) Allah  tidaklah berfirman “(niscaya) Kami lipatgandakannya untuknya,” namun berfirman

{نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}

“Niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”

“Maka, (kesimpulannya) pelipatgandaan keburukan di Mekah atau di Madinah adalah pelipatgandaan kualitas. [Maksudnya: Siksanya lebih pedih dan menyakitkan, (hal ini) berdasarkan firman Allah Ta’ala”

{مَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ }

“Barang siapa yang bermaksud di dalamnya (Masjidil Haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. (Al-Hajj:25)[3].

Wallahu a’lam”. 

***

Catatan kaki

[1] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam

[2] Kalimat ini tidak penulis temukan di kitab aslinya:  Asy- Syarhul Mumti‘ 7/227, wallahu a’lam

___

Sumber: Islamqa.info/ar/38213[1]

Penerjemah: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Posted at 23.57 |  by Harian Muslim
KEMARIN dini hari sebuah pesan masuk lewat telefon. Di Yogyakarta, subuh masih jauh. Di Gaza, bahkan belum tengah malam. Pesan itu pesan kematian. Ada ribuan kematian di Gaza. Semuanya istimewa.
Tapi untuk Sahabat Al-Aqsha, pesan ini lebih istimewa karena sangat pribadi. Salah satu pribadi yang pernah banyak membantu tunainya amanah-amanah Anda, Allah panggil pulang. Relawan sepuh kita bernama Ahmad Abu Syusya, usia 76 tahun, wafat kemarin lusa (10/12).
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.
Sungguh kita semua milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita semua kembali.
Kami memanggilnya Abu Wail, panggilan sayang yang biasa dipanggilkan anggota keluarganya.
Abu Wail saksi mata peristiwa An-Nakbah. Yaitu ketika tahun 1948 terjadi puncak pembantaian, teror oleh gerombolan-gerombolan Zionis Israel yang mengusir ribuan warga Palestina 1948.
Kala itu Abu Wail berusia 10 tahun, dipaksa serdadu Zionis ikut berjalan kaki mengungsi bersama orang tuanya, dari Palestina sampai ke Kuwait, 1.200 kilometer! Ya, jalan kaki.
Ya Allah… ya Allah…
Abu Wail ini pribadi yang sungguh istimewa. Umm Wail, demikian kami memanggil istri beliau, pernah bercerita kepada relawati Sahabat Al-Aqsha, “Abu Wail sangat sayang kepada saya. Lebih dari 50 tahun kami menikah, dia tak pernah marah…”
Pertama kali kami kenal Abu Wail, Musim Panas 2008, saat Sahabat Al-Aqsha berkunjung ke kamp pengungsi Khan Danun, di pinggir kota Damaskus, Suriah. Kakek belasan cucu itu penanggung jawab kesejahteraan ratusan keluarga pengungsi.
Ia pernah mengemban amanah yang sama di ‘Adn, Yaman. Sesudah pensiun dari profesinya sebagai paramedis.
Sejak perjumpaan di Damaskus hari itu, Abu Wail lah yang menangani bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha ke kamp Khan Danun. Diantaranya santunan anak yatim pengungsi Palestina, daging qurban, dan bantuan untuk pusat kursus menjahit bagi kaum ibu.
Abu Wail juga hafal Al-Quran 30 juz.
Ahlan… ahlan.. ahlan…,” pria yang fasih berbahasa Inggris ini menyambut kami seperti menyambut keluarga yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Padahal itu hari pertama kami berkenalan.
Rupanya itulah kekhasan Abu Wail, jumpa dengan siapa saja yang lama baru ketemu, dibungkukkan sedikit tubuhnya yang jangkung dan kekar itu. Lalu tangannya membuka lebar seperti kiper siap menangkap bola. Lalu memeluk kami.
Kalau ada orang yang punya hubungan paling dekat di rombongan itu, diangkatnya tubuh orang itu sambil dipeluk. Umur 70-an pun masih kuat mengangkat tubuh orang.
Senyumnya lebar. Senyumnya lebar… ya Allah, senyum itu…
Lihat, jenazahnya pun tersenyum lebar.
photo 2-1
(Berikut ini terjemahan syair yang tertulis di poster di atas, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah itu…)
Katakanlah kepadaku
demi Rabb mu
apakah yang engkau lihat
dan membuatmu tersenyum?
Apakah kamu telah memulai
hari-hari penuh kenikmatan
wahai tuanku.
Apakah kamu telah melihat
Ja’far atau Bilal atau
kedua matamu telah lepas
dari dahaga dengan melihat
Nabi Muhammad
Shallallaahu ‘alayhi wa sallam
yang tercinta..
Mereka adalah Ahlul Quran…
Mereka adalah Ahlullah
dan orang-orang yang dipilih-Nya..
semoga Allah merahmatimu
wahai Abu Wail.
Katakanlah kepadaku
demi Rabb mu
apakah yang engkau lihat
dan membuatmu tersenyum…
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Abu Wail meninggalkan Damaskus di awal tahun 2012. Kegiatannya menolong warga Suriah yang dizhalimi rezim Basyar Assad, sudah sampai mengundang bahaya yang mengancam nyawanya.
Oleh para pemimpin Palestina di Suriah, Abu Wail termasuk yang diminta segera menyingkir. Ia boyong keluarganya, bukan ke Kuwait City, kota superkaya tempat ia dibesarkan jadi seorang paramedis profesional. Tapi ke Gaza yang sedang dikepung.
“Saya ingin Allah wafatkan saya di Tanah Ribath ini, Tanah Jihad,” katanya saat kami berkunjung Mei 2012.
Sehabis Perang Hijaratus Sijjil, Desember 2012, Sahabat Al-Aqsha singgah lagi di rumah mungilnya di kamp pengungsi Asy-Syathi’.
Abu Wail bercerita, hari-harinya dihabiskannya mengkaji Al-Quran. Beri’tikaf di masjid. Mengurus cucu. Menyemangati anak-anak dan cucu-cucunya untuk bertahan dan berjihad bersama para Mujahidin Gaza. Mencintai habis-habisan istrinya, Umm Wail, di sisa-sisa waktu yang Allah berikan. Sebelum kelak dipengantinkan lagi selama-lamanya di Firdausil A’la.
Aduh, Abu Wail…
Semakin banyak menulis ini… semakin berat rasanya kau tinggal kami duluan. Rindu senyummu. Sebaiknya cukup di sini saja.
Semoga Allah muluskan hisabmu. Tanpa hisab. Josss… langsung ke Syurganya, menjumpai para Nabi dan Rasul, para Shiddiqiin, para Syuhada, para Shalihin.
Allahumma aamiin.
photo 1-2
(Berikut ini terjemahan puisi di poster kedua, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah)
Inikah rembulan yang menghilang
tanpa menyisakan cahaya pada kegelapan negeri Yaman
Inikah mentari yang terbenam tidak menerangi bumi Syam,
karena kafan menghalangimu
Engkau meninggalkanku
dengan lesatan api yang menghanguskanku.
Aku menjadi orang asing tanpa negeri
Dalam diam,
sedih ini telah kehilangan pelipur mata,
mengungkap perih yang terkandung hati
Aku rindu senyummu yang cahayanya
memendari bagaimana cara merindui negeri
Aku rindu teguhmu yang tinggi,
telah menanamkan jejak perjuangan
sepanjang Damaskus hingga ‘Adn
Allah menjadi saksi atas janjimu,
Ayahanda, bahwa engkau mulia dan sabar
walau coba dan uji mendera
Semoga Allah alirkan bagimu Rahmat-Nya,
sebagaimana beburung bermain di dedaunan
di antara dedahan pohon.
[Sahabat Al-Aqsha.com]

Relawan Sepuh Kita Ini, Pulang ke Allah Sambil Tersenyum

KEMARIN dini hari sebuah pesan masuk lewat telefon. Di Yogyakarta, subuh masih jauh. Di Gaza, bahkan belum tengah malam. Pesan itu pesan kematian. Ada ribuan kematian di Gaza. Semuanya istimewa.
Tapi untuk Sahabat Al-Aqsha, pesan ini lebih istimewa karena sangat pribadi. Salah satu pribadi yang pernah banyak membantu tunainya amanah-amanah Anda, Allah panggil pulang. Relawan sepuh kita bernama Ahmad Abu Syusya, usia 76 tahun, wafat kemarin lusa (10/12).
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.
Sungguh kita semua milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita semua kembali.
Kami memanggilnya Abu Wail, panggilan sayang yang biasa dipanggilkan anggota keluarganya.
Abu Wail saksi mata peristiwa An-Nakbah. Yaitu ketika tahun 1948 terjadi puncak pembantaian, teror oleh gerombolan-gerombolan Zionis Israel yang mengusir ribuan warga Palestina 1948.
Kala itu Abu Wail berusia 10 tahun, dipaksa serdadu Zionis ikut berjalan kaki mengungsi bersama orang tuanya, dari Palestina sampai ke Kuwait, 1.200 kilometer! Ya, jalan kaki.
Ya Allah… ya Allah…
Abu Wail ini pribadi yang sungguh istimewa. Umm Wail, demikian kami memanggil istri beliau, pernah bercerita kepada relawati Sahabat Al-Aqsha, “Abu Wail sangat sayang kepada saya. Lebih dari 50 tahun kami menikah, dia tak pernah marah…”
Pertama kali kami kenal Abu Wail, Musim Panas 2008, saat Sahabat Al-Aqsha berkunjung ke kamp pengungsi Khan Danun, di pinggir kota Damaskus, Suriah. Kakek belasan cucu itu penanggung jawab kesejahteraan ratusan keluarga pengungsi.
Ia pernah mengemban amanah yang sama di ‘Adn, Yaman. Sesudah pensiun dari profesinya sebagai paramedis.
Sejak perjumpaan di Damaskus hari itu, Abu Wail lah yang menangani bantuan yang disalurkan Sahabat Al-Aqsha ke kamp Khan Danun. Diantaranya santunan anak yatim pengungsi Palestina, daging qurban, dan bantuan untuk pusat kursus menjahit bagi kaum ibu.
Abu Wail juga hafal Al-Quran 30 juz.
Ahlan… ahlan.. ahlan…,” pria yang fasih berbahasa Inggris ini menyambut kami seperti menyambut keluarga yang sudah puluhan tahun tak berjumpa. Padahal itu hari pertama kami berkenalan.
Rupanya itulah kekhasan Abu Wail, jumpa dengan siapa saja yang lama baru ketemu, dibungkukkan sedikit tubuhnya yang jangkung dan kekar itu. Lalu tangannya membuka lebar seperti kiper siap menangkap bola. Lalu memeluk kami.
Kalau ada orang yang punya hubungan paling dekat di rombongan itu, diangkatnya tubuh orang itu sambil dipeluk. Umur 70-an pun masih kuat mengangkat tubuh orang.
Senyumnya lebar. Senyumnya lebar… ya Allah, senyum itu…
Lihat, jenazahnya pun tersenyum lebar.
photo 2-1
(Berikut ini terjemahan syair yang tertulis di poster di atas, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah itu…)
Katakanlah kepadaku
demi Rabb mu
apakah yang engkau lihat
dan membuatmu tersenyum?
Apakah kamu telah memulai
hari-hari penuh kenikmatan
wahai tuanku.
Apakah kamu telah melihat
Ja’far atau Bilal atau
kedua matamu telah lepas
dari dahaga dengan melihat
Nabi Muhammad
Shallallaahu ‘alayhi wa sallam
yang tercinta..
Mereka adalah Ahlul Quran…
Mereka adalah Ahlullah
dan orang-orang yang dipilih-Nya..
semoga Allah merahmatimu
wahai Abu Wail.
Katakanlah kepadaku
demi Rabb mu
apakah yang engkau lihat
dan membuatmu tersenyum…
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Abu Wail meninggalkan Damaskus di awal tahun 2012. Kegiatannya menolong warga Suriah yang dizhalimi rezim Basyar Assad, sudah sampai mengundang bahaya yang mengancam nyawanya.
Oleh para pemimpin Palestina di Suriah, Abu Wail termasuk yang diminta segera menyingkir. Ia boyong keluarganya, bukan ke Kuwait City, kota superkaya tempat ia dibesarkan jadi seorang paramedis profesional. Tapi ke Gaza yang sedang dikepung.
“Saya ingin Allah wafatkan saya di Tanah Ribath ini, Tanah Jihad,” katanya saat kami berkunjung Mei 2012.
Sehabis Perang Hijaratus Sijjil, Desember 2012, Sahabat Al-Aqsha singgah lagi di rumah mungilnya di kamp pengungsi Asy-Syathi’.
Abu Wail bercerita, hari-harinya dihabiskannya mengkaji Al-Quran. Beri’tikaf di masjid. Mengurus cucu. Menyemangati anak-anak dan cucu-cucunya untuk bertahan dan berjihad bersama para Mujahidin Gaza. Mencintai habis-habisan istrinya, Umm Wail, di sisa-sisa waktu yang Allah berikan. Sebelum kelak dipengantinkan lagi selama-lamanya di Firdausil A’la.
Aduh, Abu Wail…
Semakin banyak menulis ini… semakin berat rasanya kau tinggal kami duluan. Rindu senyummu. Sebaiknya cukup di sini saja.
Semoga Allah muluskan hisabmu. Tanpa hisab. Josss… langsung ke Syurganya, menjumpai para Nabi dan Rasul, para Shiddiqiin, para Syuhada, para Shalihin.
Allahumma aamiin.
photo 1-2
(Berikut ini terjemahan puisi di poster kedua, yang dibuatkan sahabatnya Muhammad Rabah)
Inikah rembulan yang menghilang
tanpa menyisakan cahaya pada kegelapan negeri Yaman
Inikah mentari yang terbenam tidak menerangi bumi Syam,
karena kafan menghalangimu
Engkau meninggalkanku
dengan lesatan api yang menghanguskanku.
Aku menjadi orang asing tanpa negeri
Dalam diam,
sedih ini telah kehilangan pelipur mata,
mengungkap perih yang terkandung hati
Aku rindu senyummu yang cahayanya
memendari bagaimana cara merindui negeri
Aku rindu teguhmu yang tinggi,
telah menanamkan jejak perjuangan
sepanjang Damaskus hingga ‘Adn
Allah menjadi saksi atas janjimu,
Ayahanda, bahwa engkau mulia dan sabar
walau coba dan uji mendera
Semoga Allah alirkan bagimu Rahmat-Nya,
sebagaimana beburung bermain di dedaunan
di antara dedahan pohon.
[Sahabat Al-Aqsha.com]

Posted at 22.31 |  by Harian Muslim

dakwatuna.com – Bethlehem. Seorang tentara wanita Israel mengalami luka di bagian lehernya, Senin (29/6/2015) pagi tadi, setelah ditusuk oleh seorang gadis Palestina di pos pemeriksaan di kota Bethlehem bagian utara.

Luka yang dialami tentara wanita tersebut cukup parah. Gadis Palestina menusuknya saat pemeriksaan di pos. Demikian diberitakan stasiun radio Bethlehem 2000.

Beberapa tentara Israel yang berada di dekat tempat kejadian langsung menangkap gadis Palestina, yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Diketahui beberapa waktu terakhir kerap terjadi kasus penusukan terhadap tentara Israel di wilayah Palestina. Pekan lalu, seorang pemuda Palestina di Bab Amoud, Al-Quds. Pemuda tersebut gugur karena ditembak, sementara tentara Israel dibawa ke rumah sakit dalam kondisi luka parah. (msa/dakwatuna)

Sumber: Egypt Window

Redaktur: M Sofwan

Seorang Gadis Palestina Berhasil Tusuk Tentara Israel

dakwatuna.com – Bethlehem. Seorang tentara wanita Israel mengalami luka di bagian lehernya, Senin (29/6/2015) pagi tadi, setelah ditusuk oleh seorang gadis Palestina di pos pemeriksaan di kota Bethlehem bagian utara.

Luka yang dialami tentara wanita tersebut cukup parah. Gadis Palestina menusuknya saat pemeriksaan di pos. Demikian diberitakan stasiun radio Bethlehem 2000.

Beberapa tentara Israel yang berada di dekat tempat kejadian langsung menangkap gadis Palestina, yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Diketahui beberapa waktu terakhir kerap terjadi kasus penusukan terhadap tentara Israel di wilayah Palestina. Pekan lalu, seorang pemuda Palestina di Bab Amoud, Al-Quds. Pemuda tersebut gugur karena ditembak, sementara tentara Israel dibawa ke rumah sakit dalam kondisi luka parah. (msa/dakwatuna)

Sumber: Egypt Window

Redaktur: M Sofwan

Posted at 16.40 |  by Harian Muslim

(Arrahmah.com) - Ini adalah kisah nyata proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Kepada Arrahmah, netizen pemberi kabar ini tidak bersedia menyebutkan namanya. Ia juga sengaja tidak menyebutkan nama dan alamat jelas keluarga jenazah demi menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.

Insyaa Allah, kisah ini dapat menjadi hikmah pada Ramadhan 1436 Hijriyah ini dan cermin bagi kita semua, sebelum ajal menjemput.

Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada pemberi kabar. Dengan gaya bertutur, selengkapnya sang Modin menceritakan pengalamannya.

Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun. Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.

Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan 'istimewa' sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu proses penguburan yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

Sebagai Modin tetap di desa ini, saya diminta oleh anak almarhum untuk mengurus jenazah bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan.

Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh,saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wata'ala.

Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong..
Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus fardhu kifayah atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.

Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi. Sekadar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.

Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah Subhanahu Wata'ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini...???

Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wata'ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa...???

Saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan merasa mendapat aib dengan apa yang berlaku pada bapaknya. Kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka, "Inilah ujian Allah terhadap kita..!!" Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.

Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdhal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru.

Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.
Takdir Allah, ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah, suasana menjadi makin panik.

Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.

Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.
Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.

Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah, "Yaa Allah, jangan kau hinakan jenazah ini Yaa Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini."

Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah..
Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan.

Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai, "Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya."

Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian..!! Jadi saya suruh tuan yang punya van itu membawa kembali vannya. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya..
Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu.

Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.

Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah Subhanahu Wata'ala berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku. Saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.

Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu...??? Sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na'udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat syafa'at Nabi.

Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Saya tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.

Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Subhanallah, dalam sejarah belum pernah ada peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.

Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqinkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum, saya lalu mengumpulkan keluarganya.

Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya..
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim..??
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya..??
3. Memakan harta masjid dan anak yatim..??
4. Menyalahkan gunakan jabatan untuk kepentingan sendiri..??
5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq..??

Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu untuk memberi tahu, maka saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya.

Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yang beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.

Peristiwa ini akan tetap saya ingat, dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala pencipta jagad raya ini..

Kepada semua pembaca, tanyalah diri kita, akankah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita..??
Semoga akhir hidup kita semua husnul khatimah, aammiin..

Wallahua'lam bish showwab. (adibahasan/arrahmah.com)

Subhanallah, jazad pejabat ini alami 7 kejanggalan saat hendak dikuburkan

(Arrahmah.com) - Ini adalah kisah nyata proses penguburan seorang pejabat di sebuah kota di Jawa Timur. Kepada Arrahmah, netizen pemberi kabar ini tidak bersedia menyebutkan namanya. Ia juga sengaja tidak menyebutkan nama dan alamat jelas keluarga jenazah demi menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.

Insyaa Allah, kisah ini dapat menjadi hikmah pada Ramadhan 1436 Hijriyah ini dan cermin bagi kita semua, sebelum ajal menjemput.

Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Modin (pengurus jenazah) kepada pemberi kabar. Dengan gaya bertutur, selengkapnya sang Modin menceritakan pengalamannya.

Saya terlibat dalam pengurus jenazah lebih dari 16 tahun. Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut macam-macam jenis mayat sudah saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.

Bagaimanapun, pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya dapat kesempatan 'istimewa' sepanjang hidup. Inilah pertama saya bertemu proses penguburan yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

Sebagai Modin tetap di desa ini, saya diminta oleh anak almarhum untuk mengurus jenazah bapaknya. Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba sampai ke rumah almarhum tercium bau jenazah itu sangat busuk. Baunya cukup memualkan perut dan menjijikan.

Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya lihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh,saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan takut, cemas, kesal dan macam-macam. Wajahnya seperti tidak mendapat nur dari Allah Subhanahu Wata'ala.

Kemudian saya pun ambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong..
Secara kebetulan pula, disitu ada dua orang yang pernah mengikuti kursus fardhu kifayah atau pengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka mambantu saya dan mereka setuju.

Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi. Sekadar untuk pengetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa. Maka saya pun urut-urut perut almarhum.

Tapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah Subhanahu Wata'ala berkehendak dan menunjukkan kekuasaannya karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur akan tetapi melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di depan saya ini...???

Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wata'ala berlaku, ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat kotoran (belatung). Padahal almarhum meninggal dunia akibat diserang jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa...???

Saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut. Mungkin malu, terperanjat dan merasa mendapat aib dengan apa yang berlaku pada bapaknya. Kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka, "Inilah ujian Allah terhadap kita..!!" Kemudian saya minta salah satu seorang dari pada pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum.

Almarhum pada dasarnya seorang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasehati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwasanya tanggung jawab saya adalah membantu menguruskan jenazah Bapak mereka, bukan menguruskan semuanya, tanggung jawab ada pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdhal menguruskan jenazah Bapak mereka itu, bukan hanya iman, hanya bilal, atau guru.

Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat itu.
Takdir Allah, ketika ditunggingkan mayat tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhanallah, suasana menjadi makin panik.

Benar-benar kejadian yang luar biasa sulit diterima akal pikiran manusia biasa. Saya terus berdoa dan berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan wudhu. Saya meminta anak-anaknya kain kafan.

Saya bawa mayat ke dalam kamarnya dan tidak diijinkan seorang pun melihat upacara itu terkecuali waris yang terdekat sebab saya takut kejadian yang lebih aib akan terjadi.
Peristiwa apa pula yang terjadi setelah jenazah diangkat ke kamar dan hendak dikafani, takdir Allah jua yang menentukan, ketika mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala dan kaki tidak ada lebih, maka saya tak dapat mengikat kepala dan kaki.

Tidak keterlaluan kalau saya katakan ia seperti kain kafan itu tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf dikala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan tampung di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama saya berdoa kepada Allah, "Yaa Allah, jangan kau hinakan jenazah ini Yaa Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini."

Selepas itu saya beri taklimat tentang sholat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat dihantar ke tanah pekuburan karena tidak ada mobil jenazah/mobil ambulance. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi susah..
Semua sedang terpakai, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Suatu hal yang saya pikir bukan sekedar kebetulan.

Dalam keadaan itu seorang hamba Allah muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan van/sejenis mobil pick-up dari garasi rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu dirumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata dikhalayak ramai, "Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini digunakan untuk angkat jenazah itu, sebab semasa hayatnya dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya."

Renungkanlah kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian..!! Jadi saya suruh tuan yang punya van itu membawa kembali vannya. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya..
Lelaki itu mengaku dia anak murid saya. Dia meminta ijin saya dalam 10-15 menit membersihkan mobilnya itu.

Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu,muncul mobil tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup. Mobil yang dimaksudkan itu sebenarnya lori. Dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar, dalam perjalanan menuju kawasan pekuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di camping saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil.

Rupanya apa yang saya takutkan itu berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke dalam liang dan tiga lagi menurunkan jenazah. Allah Subhanahu Wata'ala berkehendak semua atas makhluk ciptaan-Nya berlaku. Saat jenazah itu menyentuh ke tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering.

Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana datang air itu...??? Sukar untuk saya menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum, supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup na'udzubillah. Kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat syafa'at Nabi.

Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu. Saya tinggalkan lobang kubur 1/4 meter. Artinya kubur itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, tapi ia seperti kubur berlobang.

Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Subhanallah, dalam sejarah belum pernah ada peristiwa seperti itu terjadi. Melihat keadaan itu, saya ambil keputusan untuk selesaikan penguburan secepat mungkin.

Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak talqinkan. Saya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah saya pulang ke rumah almarhum, saya lalu mengumpulkan keluarganya.

Saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hayatnya..
1. Apakah dia pernah menzalimi orang alim..??
2. Mendapat harta secara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya..??
3. Memakan harta masjid dan anak yatim..??
4. Menyalahkan gunakan jabatan untuk kepentingan sendiri..??
5. Tidak pernah mengeluarkan zakat, shodaqoh atau infaq..??

Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Memikirkan mungkin dia malu untuk memberi tahu, maka saya tinggalkan nomor telepon rumah. Tapi sedihnya hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum menghubungi saya.

Untuk pengetahuan umum, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi hingga ada seorang yang beristrikan orang Amerika, seorang dapat istri orang Australia dan seorang lagi istrinya orang Jepang.

Peristiwa ini akan tetap saya ingat, dan kisah ini benar-benar nyata bukan rekaan atau isapan jempol. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala pencipta jagad raya ini..

Kepada semua pembaca, tanyalah diri kita, akankah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu, bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita..??
Semoga akhir hidup kita semua husnul khatimah, aammiin..

Wallahua'lam bish showwab. (adibahasan/arrahmah.com)

Posted at 16.40 |  by Harian Muslim

KIBLAT.NET – Hobi yang cukup populer di kalangan anak-anak muda Palestina, kini telah berubah menjadi sebuah taktik baru untuk melawan tentara zionis Israel. Yaitu, kegemaran berburu ular.

Ide cerdas ini muncul dan langsung bisa diterapkan saat bentrokan pecah seminggu yang lalu di kota Silwad sebelah timur Ramallah di Tepi Barat.

Serangan-serangan tentara Israel dan bentrokan lainnya yang kerap terjadi pada hari Jumat menjadikan para pemuda Palestina lebih inovatif dalam menerapkan berbagai taktik dan cara untuk menghadapi militer Israel.

Metode terbaru mereka saat ini adalah dengan cara menangkap ular di daerah mereka sendiri, kemudian menaruh ular tersebut di tempat-tempat berlubang yang sering ditempati oleh para penembak runduk Israel saat bentrokan berlangsung.

“Semua itu terjadi tanpa direncanakan saat beberapa pemuda menangkap ular dan bermain-main dengan ular-ular hasil tangkapan mereka. Setelah mereka berpikir mau ditaruh di mana, saat itulah muncul ide untuk menanam ‘ranjau ular’ tersebut di lokasi dinding beton tempat para tentara Israel dan penembak runduk (sniper) mereka biasa mengambil posisi”, kata seorang aktivis yang berasal dari Silwad dengan kondisi anonim.

Ia menambahkan, “Atau, bisa juga ditaruh di tempat-tempat yang berdekatan dengan posisi tersebut.”

Di antara dampak positif taktik baru tersebut adalah meningkatnya semangat tempur para pemuda Palestina.

“Setelah mereka melihat reaksi para tentara Israel yang kaget dengan adanya ular di dekat mereka, lalu bergerak mundur karena takut dekat sama ular, para pemuda Palestina itu merasa sangat senang, lalu semangat juang mereka pun bertambah”, kata aktivis tersebut menambahkan.

Bentrokan yang terjadi di kota Silwad sudah dimulai sejak 18 bulan yang lalu, setelah seorang petani Palestina diserang dan dipukuli oleh sekelompok pemukim ilegal Israel.

Lalu, penduduk setempat merespon insiden tersebut dengan membakar salah satu kios milik pemukim ilegal Yahudi yang berada di dekat kota Silwad.

Setelah itu, bentrokan terus terjadi setiap hari dan sekarang bentrokan telah berubah menjadi sekali dalam seminggu di pintu gerbang kota sebelah barat. Di daerah inilah pihak militer Israel membuat pos penjagaan untuk menjamin kehadiran pasukan Zionis tersebut secara permanen.

Sejumlah kota dan desa-desa Palestina di Tepi Barat telah menjadi tempat bentrokan yang terjadi setiap minggu karena tanah-tanah milik warga disita untuk kepentingan para pemukim ilegal.

“Selama operasi gerilya yang menggunakan taktik hit-and-run, para pemuda Palestina mampu menjangkau posisi baru tentara Israel setelah sebelumnya mereka mundur dari posisi awal. Mereka para mujahid muda itu lalu mendapatkan beberapa gas air mata dan granat kejut yang ditinggalkan begitu saja oleh tentara-tentara Israel saat melarikan diri,” kata sebuah sumber.

Dalam suatu amaliyat, para mujahid muda bisa menggunakan kembali amunisi hasil rampasan tersebut untuk menyerang balik tentara Israel.

 

Penulis : Yasin Muslim

Sumber : Anadolu

Jebakan Ular: Taktik Baru untuk Mengusir Tentara Zionis Israel

KIBLAT.NET – Hobi yang cukup populer di kalangan anak-anak muda Palestina, kini telah berubah menjadi sebuah taktik baru untuk melawan tentara zionis Israel. Yaitu, kegemaran berburu ular.

Ide cerdas ini muncul dan langsung bisa diterapkan saat bentrokan pecah seminggu yang lalu di kota Silwad sebelah timur Ramallah di Tepi Barat.

Serangan-serangan tentara Israel dan bentrokan lainnya yang kerap terjadi pada hari Jumat menjadikan para pemuda Palestina lebih inovatif dalam menerapkan berbagai taktik dan cara untuk menghadapi militer Israel.

Metode terbaru mereka saat ini adalah dengan cara menangkap ular di daerah mereka sendiri, kemudian menaruh ular tersebut di tempat-tempat berlubang yang sering ditempati oleh para penembak runduk Israel saat bentrokan berlangsung.

“Semua itu terjadi tanpa direncanakan saat beberapa pemuda menangkap ular dan bermain-main dengan ular-ular hasil tangkapan mereka. Setelah mereka berpikir mau ditaruh di mana, saat itulah muncul ide untuk menanam ‘ranjau ular’ tersebut di lokasi dinding beton tempat para tentara Israel dan penembak runduk (sniper) mereka biasa mengambil posisi”, kata seorang aktivis yang berasal dari Silwad dengan kondisi anonim.

Ia menambahkan, “Atau, bisa juga ditaruh di tempat-tempat yang berdekatan dengan posisi tersebut.”

Di antara dampak positif taktik baru tersebut adalah meningkatnya semangat tempur para pemuda Palestina.

“Setelah mereka melihat reaksi para tentara Israel yang kaget dengan adanya ular di dekat mereka, lalu bergerak mundur karena takut dekat sama ular, para pemuda Palestina itu merasa sangat senang, lalu semangat juang mereka pun bertambah”, kata aktivis tersebut menambahkan.

Bentrokan yang terjadi di kota Silwad sudah dimulai sejak 18 bulan yang lalu, setelah seorang petani Palestina diserang dan dipukuli oleh sekelompok pemukim ilegal Israel.

Lalu, penduduk setempat merespon insiden tersebut dengan membakar salah satu kios milik pemukim ilegal Yahudi yang berada di dekat kota Silwad.

Setelah itu, bentrokan terus terjadi setiap hari dan sekarang bentrokan telah berubah menjadi sekali dalam seminggu di pintu gerbang kota sebelah barat. Di daerah inilah pihak militer Israel membuat pos penjagaan untuk menjamin kehadiran pasukan Zionis tersebut secara permanen.

Sejumlah kota dan desa-desa Palestina di Tepi Barat telah menjadi tempat bentrokan yang terjadi setiap minggu karena tanah-tanah milik warga disita untuk kepentingan para pemukim ilegal.

“Selama operasi gerilya yang menggunakan taktik hit-and-run, para pemuda Palestina mampu menjangkau posisi baru tentara Israel setelah sebelumnya mereka mundur dari posisi awal. Mereka para mujahid muda itu lalu mendapatkan beberapa gas air mata dan granat kejut yang ditinggalkan begitu saja oleh tentara-tentara Israel saat melarikan diri,” kata sebuah sumber.

Dalam suatu amaliyat, para mujahid muda bisa menggunakan kembali amunisi hasil rampasan tersebut untuk menyerang balik tentara Israel.

 

Penulis : Yasin Muslim

Sumber : Anadolu

Posted at 16.04 |  by Harian Muslim

GAZA (Arrahmah.com) - Alhamdulillah, pada Jum'at (26/6/2015), sejumlah warga Gaza memperoleh distribusi zakat dan sedekah dari Muhsinin Indonesia untuk pertama kalinya di Ramadhan 1436 Hijriyah ini.

"Zakat yang dititipkan kepada kami, didistribusikan dalam bentuk paket bahan makanan siap santap untuk berbuka puasa," ujar Abdullah Onim, Ketua penyelenggara program Zakar for Gaza kepada Arrahmah.com, Sabtu (27/6).

Menurut Bang Onim, begitu sapaan akrab Chairman Radio Suara Palestina ini, "Untuk hari ini lebih dari 130 anak-anak Fakir dan Yatim mendapat paket bahan makanan, juga mengadakan buka puasa bersama bagi anak-anak Gaza."

Pada gelombang pertama ini, "Zakat yang Muhsinin titipkan kepada kami, didistribusikan ke warga Gaza dalam bentuk paket buka puasa dan santapan sahur, zakat tunai, bahan makanan/sembako, kado hari raya/baju lebaran," ujar Bang Onim.

Ia mempersilakan bagi siapa saja yang ingin bersinergi dalam program Zakat di Gaza Palestina. "Dan berminat menyalurkan Zakat di Gaza Palestina, kami siap bantu menyalurkannya," tambahnya.

Bang Onim dan warga Gaza mendoakan Muhsinin Indonesia, "Semoga Zakat dan sedekah anda, menjadi timbangan pemberat amal kebaikan di akherat kelak, aammiin."

Foto: Hari pertama distribusi zakat dan sedekah di Gaza

GAZA (Arrahmah.com) - Alhamdulillah, pada Jum'at (26/6/2015), sejumlah warga Gaza memperoleh distribusi zakat dan sedekah dari Muhsinin Indonesia untuk pertama kalinya di Ramadhan 1436 Hijriyah ini.

"Zakat yang dititipkan kepada kami, didistribusikan dalam bentuk paket bahan makanan siap santap untuk berbuka puasa," ujar Abdullah Onim, Ketua penyelenggara program Zakar for Gaza kepada Arrahmah.com, Sabtu (27/6).

Menurut Bang Onim, begitu sapaan akrab Chairman Radio Suara Palestina ini, "Untuk hari ini lebih dari 130 anak-anak Fakir dan Yatim mendapat paket bahan makanan, juga mengadakan buka puasa bersama bagi anak-anak Gaza."

Pada gelombang pertama ini, "Zakat yang Muhsinin titipkan kepada kami, didistribusikan ke warga Gaza dalam bentuk paket buka puasa dan santapan sahur, zakat tunai, bahan makanan/sembako, kado hari raya/baju lebaran," ujar Bang Onim.

Ia mempersilakan bagi siapa saja yang ingin bersinergi dalam program Zakat di Gaza Palestina. "Dan berminat menyalurkan Zakat di Gaza Palestina, kami siap bantu menyalurkannya," tambahnya.

Bang Onim dan warga Gaza mendoakan Muhsinin Indonesia, "Semoga Zakat dan sedekah anda, menjadi timbangan pemberat amal kebaikan di akherat kelak, aammiin."

Posted at 14.34 |  by Harian Muslim

Jakarta (Pinmas) —- Masa pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk jamaah haji reguler tahap I akan berakhir Selasa (30/01) besok. Sampai dengan penutupan pelunasan di hari kedua puluh Senin (29/06), pada jam 16.00 WIB, data pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah menunjukan sebanyak 142.218 jamaah telah melakukan pelunasan. 

Artinya, sampai dengan satu hari menjelang ditutupnya masa pelunasan BPIH Reguler tahap pertama, masih ada 11.831 (7,68%) kuota haji yang belum terlunasi. Keputusan Menteri Agama (KMA) No 32 Tahun 2015 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1436H/2015M mengatur bahwa kuota haji nasional berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah. 

Dengan sisa 11.831 kuota, berarti kuota haji yang sudah terlunasi mencapi 92,32 %. Angka ini diharapkan akan terus bertambah sampai dengan tahap akhir pelunasan tahap pertama besok. Pelunasan dilakukan pada hari kerja dengan waktu pembayaran untuk Indonesia Bagian Barat pukul 10.00-16.00 WIB, Indonesia Bagian Tengah pukul 11.00-17.00 WITA, dan Indonesia Bagian Timur pukul 12.00-18.00 WIT.

Jamaah haji yang berhak melakukan pelunasan pada tahap pertama adalah mereka yang telah memiliki nomor porsi dan masuk dalam alokasi kuota provinsi atau kabupaten/kota tahun 1436H/2015M dengan ketentuan: 1) belum pernah menunaikan ibadah haji; 2) telah berusia 18 tahun atau sudah menikah, terhitung pada tanggal 21 Agustus 2015; 3) jemaah lunas tunda yang berstatus belum pernah haji; dan 4) jemaah haji nomor porsi berikutnya berdasarkan data Siskohat sebanyak 5% yang berstatus belum haji dan masuk daftar tunggu pada tahun 1437H/2016M dari jumlah kuota provinsi dan kab/kota yang bersangkutan. (selengkapnya sila lihat Daftar Jamaah Berhak Lunas BPIH Reguler 1436H/2015M)

Pelunasan BPIH dilakukan pada Bank Penerima Setoran (BPS)  BPIH tempat setoran awal atau BPS BPIH penganti (bagi nasabah eks BPS BPIH) dengan menunjukkan bukti pembayaran setoran awal BPIH lembar pertama. 

Kuota Cadangan

Selain untuk jamaah haji reguler yang sudah masuk dalam daftar berhak lunas, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) juga membuka pelunasan untuk kuota cadangan. Sampai dengan penutupan Senin sore ini, ada 5.502 jamaah haji yang masuk dalam kuota cadangan yang sudah melakukan pelunasan. Tahun ini setidaknya ada 7.775 kuota cadangan yang diberi kesempatan untuk melakukan pelunasan BPIH sesuai dengan ketentuan sebagai berikut: (selengkapnya sila lihat Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah)

1. jamaah tersebut memiliki status cadangan yang baru bisa diberangkatkan bilamana terdapat sisa kuota pada masing-masing provinsi dan kabupaten/kota setelah pelunasan tahap ke-2 berakhir (7 – 13 Juli 2015);

2. jamaah status cadangan harus membuat surat pernyataan di Kankemenag Kab/Kota sebelum melakukan pelunasan di BPS BPIH bahwa yang bersangkutan tidak melakukan tuntutan bilamana tidak diberangkatkan tahun ini dikarenakan kuota habis setelah pelunasan tahap 2. Surat pernyataan tersebut, sebagai dasar bagi pelunasan jamaah haji yang berstatus cadangan;

3. bilamana jamaah cadangan tersebut belum dapat diberangkatkan pada tahun 1436H/2015M, maka menjadi prioritas pemberangkatan pada tahun berikutnya dengan pembayaran besaran BPIH menyesuaikan dengan besaran tahun berikutnya. (mkd/mkd)

Sehari Jelang Ditutup, Kuota Haji Reguler Tersisa 11.831

Jakarta (Pinmas) —- Masa pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk jamaah haji reguler tahap I akan berakhir Selasa (30/01) besok. Sampai dengan penutupan pelunasan di hari kedua puluh Senin (29/06), pada jam 16.00 WIB, data pada Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah menunjukan sebanyak 142.218 jamaah telah melakukan pelunasan. 

Artinya, sampai dengan satu hari menjelang ditutupnya masa pelunasan BPIH Reguler tahap pertama, masih ada 11.831 (7,68%) kuota haji yang belum terlunasi. Keputusan Menteri Agama (KMA) No 32 Tahun 2015 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1436H/2015M mengatur bahwa kuota haji nasional berjumlah 168.800 yang terdiri dari kuota haji reguler (155.200) dan kuota haji khusus (13.600). Kuota haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu: 154.049 untuk jamaah haji dan 1.151 untuk petugas haji daerah. 

Dengan sisa 11.831 kuota, berarti kuota haji yang sudah terlunasi mencapi 92,32 %. Angka ini diharapkan akan terus bertambah sampai dengan tahap akhir pelunasan tahap pertama besok. Pelunasan dilakukan pada hari kerja dengan waktu pembayaran untuk Indonesia Bagian Barat pukul 10.00-16.00 WIB, Indonesia Bagian Tengah pukul 11.00-17.00 WITA, dan Indonesia Bagian Timur pukul 12.00-18.00 WIT.

Jamaah haji yang berhak melakukan pelunasan pada tahap pertama adalah mereka yang telah memiliki nomor porsi dan masuk dalam alokasi kuota provinsi atau kabupaten/kota tahun 1436H/2015M dengan ketentuan: 1) belum pernah menunaikan ibadah haji; 2) telah berusia 18 tahun atau sudah menikah, terhitung pada tanggal 21 Agustus 2015; 3) jemaah lunas tunda yang berstatus belum pernah haji; dan 4) jemaah haji nomor porsi berikutnya berdasarkan data Siskohat sebanyak 5% yang berstatus belum haji dan masuk daftar tunggu pada tahun 1437H/2016M dari jumlah kuota provinsi dan kab/kota yang bersangkutan. (selengkapnya sila lihat Daftar Jamaah Berhak Lunas BPIH Reguler 1436H/2015M)

Pelunasan BPIH dilakukan pada Bank Penerima Setoran (BPS)  BPIH tempat setoran awal atau BPS BPIH penganti (bagi nasabah eks BPS BPIH) dengan menunjukkan bukti pembayaran setoran awal BPIH lembar pertama. 

Kuota Cadangan

Selain untuk jamaah haji reguler yang sudah masuk dalam daftar berhak lunas, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) juga membuka pelunasan untuk kuota cadangan. Sampai dengan penutupan Senin sore ini, ada 5.502 jamaah haji yang masuk dalam kuota cadangan yang sudah melakukan pelunasan. Tahun ini setidaknya ada 7.775 kuota cadangan yang diberi kesempatan untuk melakukan pelunasan BPIH sesuai dengan ketentuan sebagai berikut: (selengkapnya sila lihat Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah)

1. jamaah tersebut memiliki status cadangan yang baru bisa diberangkatkan bilamana terdapat sisa kuota pada masing-masing provinsi dan kabupaten/kota setelah pelunasan tahap ke-2 berakhir (7 – 13 Juli 2015);

2. jamaah status cadangan harus membuat surat pernyataan di Kankemenag Kab/Kota sebelum melakukan pelunasan di BPS BPIH bahwa yang bersangkutan tidak melakukan tuntutan bilamana tidak diberangkatkan tahun ini dikarenakan kuota habis setelah pelunasan tahap 2. Surat pernyataan tersebut, sebagai dasar bagi pelunasan jamaah haji yang berstatus cadangan;

3. bilamana jamaah cadangan tersebut belum dapat diberangkatkan pada tahun 1436H/2015M, maka menjadi prioritas pemberangkatan pada tahun berikutnya dengan pembayaran besaran BPIH menyesuaikan dengan besaran tahun berikutnya. (mkd/mkd)

Posted at 14.18 |  by Harian Muslim

dakwatuna.com – Mesir. Sumber Kementerian Dalam Negeri Mesir menyebutkan telah diumumkannya status keadaan darurat dan instruksi peningkatan kewaspadaan secara nasional pasca-tewasnya Jaksa Agung Mesir, Hisham Barakat.

Sebagaimana diberitakan Islam Memo (29/6/2015), situasi di Mesir kembali mencekam dan memanas setelah serangan bom Senin pagi (29/6/2015), menargetkan rombongan kendaraan Jaksa Agung Mesir.

Disebutkan bahwa kepolisian telah menyebar aparatnya untuk menjaga titik-titik keramaian dan fasilitas publik, di samping memperketat pengamanan kediaman hakim-hakim, khususnya yang menangani kasus-kasus terorisme.

Jaksa Agung Mesir, Hisham Barakat, tewas akibat luka parah yang dideritanya setelah menjadi korban serangan bom yang menargetkan iring-iringan kendaraannya di kawasan Heliopolis, Cairo bagian timur pada Senin pagi waktu setempat (29/6/2015).

Redaktur: Rio Erismen

Jaksa Agung Terbunuh, Mesir Berlakukan Keadaan Darurat

dakwatuna.com – Mesir. Sumber Kementerian Dalam Negeri Mesir menyebutkan telah diumumkannya status keadaan darurat dan instruksi peningkatan kewaspadaan secara nasional pasca-tewasnya Jaksa Agung Mesir, Hisham Barakat.

Sebagaimana diberitakan Islam Memo (29/6/2015), situasi di Mesir kembali mencekam dan memanas setelah serangan bom Senin pagi (29/6/2015), menargetkan rombongan kendaraan Jaksa Agung Mesir.

Disebutkan bahwa kepolisian telah menyebar aparatnya untuk menjaga titik-titik keramaian dan fasilitas publik, di samping memperketat pengamanan kediaman hakim-hakim, khususnya yang menangani kasus-kasus terorisme.

Jaksa Agung Mesir, Hisham Barakat, tewas akibat luka parah yang dideritanya setelah menjadi korban serangan bom yang menargetkan iring-iringan kendaraannya di kawasan Heliopolis, Cairo bagian timur pada Senin pagi waktu setempat (29/6/2015).

Redaktur: Rio Erismen

Posted at 13.59 |  by Harian Muslim

Mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan perantara sabar dan shalat. Meskipun, berat menjalankannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Ummu Mujahid, sebut saja demikian, memiliki satu orang anak dan tinggal bersama ayahnya yang sudah berusia senja. Sementara suaminya lama pergi, entah ke mana, tak diketahui keberadaannya hingga saat itu. Persis saja, ia menjadi tulang punggung dengan bekerja apa saja-selama halal-demi mencukupi kebutuhan hidup diri, anak, dan ayahnya.

Suatu hari, Allah Ta’ala mengujinya. Si anak sakit. Badannya amat panas dan lemas. Sementara itu, di rumah nan sederhana di pinggiran Negeri Piramida itu sudah berhari-hari tak didapati asap mengepul. Tak memasak apa pun, sebab tak miliki uang untuk berbelanja makanan. Miris.

Melihat si anak sakit panas, naluri keibuan Ummu Mujahid pun timbul. Sedianya, ia berniat untuk memanggil dokter. Tapi, mau dibayar dengan apa? Maka, ia pun mengambil air dan handuk untuk menurunkan panas anaknya dengan mengompres.

Seketika itu juga, ingatannya tertuju kepada Allah Ta’ala dan keyakinannya amat mendalam bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dengan perantaraan sabar dan shalat. Dan, sebagai bentuk sabarnya, Ummu Mujahid mengompres anaknya yang terbaring lunglai di tempat tidur.

Dicelupkanlah handuk ke baskom berisi air, sedikit diperas, lalu diletakkan di bagian tubuh anaknya. Sembari menunggu handuknya kering, ia pun mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat sunnah muthlaq. Rupanya, bersamaan dengan salam, handuk yang ditempelkan di tubuh anaknya itu pun kering.

Terus seperti itu; mengompres, shalat, berulang kali. Hingga, berlalulah masa sekitar sembilan puluh menit ketika pintu rumahnya diketuk oleh tamu tak diundang. Oleh sang ayah, tamu itu pun dipersilakan masuk. Seorang dokter.

Tanpa diminta, dokter itu pun melakukan pemeriksaan kepada si anak. Lalu, memberikan resep dan kwitansi pembayaran. Saat menerima sodoran kertas dari dokter itu, Ummu Mujahid berkata, “Maaf, kami tak kuasa membayarmu.”

Dengan nada agak tinggi karena kaget, dokter itu pun menjawab, “Bukannya satu setengah jam yang lalu Anda menelpon dan memintaku untuk datang dan berjanji akan membayar di tempat?”

“Maaf,” bela Ummu Mujahid, “telepon di rumah ini sudah mati sejak dua bulan yang lalu,” ujarnya sembari menunjukkan meja lusuh tempat menaruh telepon.

Melihat ketulusan penuturan wanita tersebut, sang dokter pun memeriksa alamat yang dicatatnya sebagai identitas penelpon. Lepas diteliti dan dicocokkan, rupanya dokter itu salah alamat.

Menyadari hal itu, lelaki paruh baya nan saleh dan baik hati ini pun menangis. Katanya sambil menahan isak, “Allah Ta’ala mustahil mengantarkanku ke rumah ini secara kebetulan,” sembari terus menerus menyebut nama-Nya.

Kemudian, ia pun berpamit dan membebaskan Ummu Mujahid dari tagihan tersebut. Sungguh, bersama satu kesukaran terdapat dua kemudahan. Sungguh, pertolongan-Nya amatlah dekat bagi siapa yang memintanya dengan sabar dan shalat. [Pirman/Kisahikmah]

*Ditulis bebas dari salah satu ceramah Kiyai Haji Bachtiar Nasir Lc.

Kisah Keajaiban Sabar dan Shalat

Mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan perantara sabar dan shalat. Meskipun, berat menjalankannya, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Ummu Mujahid, sebut saja demikian, memiliki satu orang anak dan tinggal bersama ayahnya yang sudah berusia senja. Sementara suaminya lama pergi, entah ke mana, tak diketahui keberadaannya hingga saat itu. Persis saja, ia menjadi tulang punggung dengan bekerja apa saja-selama halal-demi mencukupi kebutuhan hidup diri, anak, dan ayahnya.

Suatu hari, Allah Ta’ala mengujinya. Si anak sakit. Badannya amat panas dan lemas. Sementara itu, di rumah nan sederhana di pinggiran Negeri Piramida itu sudah berhari-hari tak didapati asap mengepul. Tak memasak apa pun, sebab tak miliki uang untuk berbelanja makanan. Miris.

Melihat si anak sakit panas, naluri keibuan Ummu Mujahid pun timbul. Sedianya, ia berniat untuk memanggil dokter. Tapi, mau dibayar dengan apa? Maka, ia pun mengambil air dan handuk untuk menurunkan panas anaknya dengan mengompres.

Seketika itu juga, ingatannya tertuju kepada Allah Ta’ala dan keyakinannya amat mendalam bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dengan perantaraan sabar dan shalat. Dan, sebagai bentuk sabarnya, Ummu Mujahid mengompres anaknya yang terbaring lunglai di tempat tidur.

Dicelupkanlah handuk ke baskom berisi air, sedikit diperas, lalu diletakkan di bagian tubuh anaknya. Sembari menunggu handuknya kering, ia pun mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat sunnah muthlaq. Rupanya, bersamaan dengan salam, handuk yang ditempelkan di tubuh anaknya itu pun kering.

Terus seperti itu; mengompres, shalat, berulang kali. Hingga, berlalulah masa sekitar sembilan puluh menit ketika pintu rumahnya diketuk oleh tamu tak diundang. Oleh sang ayah, tamu itu pun dipersilakan masuk. Seorang dokter.

Tanpa diminta, dokter itu pun melakukan pemeriksaan kepada si anak. Lalu, memberikan resep dan kwitansi pembayaran. Saat menerima sodoran kertas dari dokter itu, Ummu Mujahid berkata, “Maaf, kami tak kuasa membayarmu.”

Dengan nada agak tinggi karena kaget, dokter itu pun menjawab, “Bukannya satu setengah jam yang lalu Anda menelpon dan memintaku untuk datang dan berjanji akan membayar di tempat?”

“Maaf,” bela Ummu Mujahid, “telepon di rumah ini sudah mati sejak dua bulan yang lalu,” ujarnya sembari menunjukkan meja lusuh tempat menaruh telepon.

Melihat ketulusan penuturan wanita tersebut, sang dokter pun memeriksa alamat yang dicatatnya sebagai identitas penelpon. Lepas diteliti dan dicocokkan, rupanya dokter itu salah alamat.

Menyadari hal itu, lelaki paruh baya nan saleh dan baik hati ini pun menangis. Katanya sambil menahan isak, “Allah Ta’ala mustahil mengantarkanku ke rumah ini secara kebetulan,” sembari terus menerus menyebut nama-Nya.

Kemudian, ia pun berpamit dan membebaskan Ummu Mujahid dari tagihan tersebut. Sungguh, bersama satu kesukaran terdapat dua kemudahan. Sungguh, pertolongan-Nya amatlah dekat bagi siapa yang memintanya dengan sabar dan shalat. [Pirman/Kisahikmah]

*Ditulis bebas dari salah satu ceramah Kiyai Haji Bachtiar Nasir Lc.

Posted at 13.56 |  by Harian Muslim
SEMARANG, Infaq Dakwah Center (IDC) – Hidayah Allah datang tak pandang usia. Bila petunjuk Allah datang, tak satu pun makhluk yang mampu menghadang, menghalangi dan menyesatkannya.
Inilah pengalaman rohani Pak Handoyo, pria muallaf etnis Cina kelahiran tahun 1965. Di usia yang makin mendekati uzur, pria asal Semarang Jawa Tengah ini meninggalkan agama Kristen yang sudah dipeluknya selama 50 tahun.
Dua bulan lalu, Pak Han berikrar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid At-Taqwa Kemanggisan, Slipi Jakarta Barat pada Senin siang (30/3/2015).
Pria yang berprofesi sebagai sales toko di komplek Pasar Pagi Jakarta ini mengawali ketertarikannya terhadap Islam bermula dari keseriusannya menyimak program-program tayangan dakwah di televisi. Di depan layar kaca itulah ia belajar memahami Islam dari ceramah para ustadz papan atas.
Setelah bulat tekad, ia pun menyatakan ikrar masuk Islam dengan bimbingan para ustadz di Masjid At-Taqwa Kemanggisan, antara lain Ustadz Zainuddin, Ustadz Rahmat Hidayat dan Ustadz Darwin.
Hijrah menjadi Muslim bukanlah pilihan tanpa resiko bagi Pak Han. Karena di dalam keluarga ia menjadi orang terasing (ghuroba’), karena berbeda aqidah dengan istri dan anak-anaknya.
Ujian yang terasa berat adalah kehilangan pekerjaan pasca masuk Islam. Karena tak lagi bekerja di Pasar Pagi Jakarta, Pak Han pun pulang ke kampung halamannya sambil mencari peluang kerja.
Selain tak punya pekerjaan, hingga berita ini diturunkan Pak Han belum disunat. Harapan muallaf mantan Kristen ini tidak muluk-muluk. Ia minta bantuan sarana dan prasarana untuk kesempurnaan beribadah. Di bulan Ramadhan yang berkah ini, Pak Han ingin segera dikhitan, memiliki busana muslim dan buku-buku bacaan Islam.
...Di usia yang makin mendekati uzur, Pak Han meninggalkan agama Kristen yang sudah dipeluknya selama 50 tahun. Di bulan Ramadhan yang berkah ini, ia ingin segera dikhitan...
“Kiranya berkenan, saya ingin mengajukan bantuan untuk khitan, membeli kitab-kitab dan peralatan perlengkapan ibadah sebagaimana yang dimiliki kaum muslimin lainnya”, ujar kepada relawan IDC.
Untuk masa depan setelah menempuh hidup baru dalam Islam, Pak Han ingin kembali menekuni wirausaha berdagang alat tulis dan kelontong. Tapi usaha ini terkendala modal usaha. untuk merintis usaha ini diperlukan modal usaha sekitar 11 juta rupiah.
“Rencana saya mau kelilingan jual alat tulis dan kelontong di Jakarta Pak, karena saya sudah tahu tempat-tempatnya di Jakarta. Saya dulu sales Pak,” ujarnya kepada Direktur IDC, Ahad (21/6/2015).

PEDULI KASIH UNTUK MUALLAF
Setelah hijrah menjadi Muslim, Pak Han adalah saudara seiman kita semua. Beban yang dipikul Pak Han adalah beban kita juga. Karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).
Infaq untuk membantu meringankan beban muallaf ini insya Allah akan mengantarkan menjadi pribadi beruntung yang berhak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...” (HR Muslim).
Terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bantuan untuk muallaf yang sedang kesulitan akan memiliki banyak keutamaan, setara dengan pahala i’tikaf sebulan penuh di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i'tikaf di masjidku ini selama sebulan” (HR Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah RA, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).
Infaq untuk membantu muallaf Pak Han bisa disalurkan melalui program Infaq Produktif IDC:
  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)
CATATAN:
  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 5.000 (lima ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.005.000,- Rp 505.000,- Rp 205.000,- Rp 105.000,- 55.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqdakwahcenter.com.
  • Bila bantuan untuk muallaf Pak Han sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info: 08999.704050, 08567.700020; PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0

Muallaf Usia 50 Tahun Butuh Biaya Khitan, Perlengkapan Shalat dan Modal Usaha. Ayo Bantu!!!

SEMARANG, Infaq Dakwah Center (IDC) – Hidayah Allah datang tak pandang usia. Bila petunjuk Allah datang, tak satu pun makhluk yang mampu menghadang, menghalangi dan menyesatkannya.
Inilah pengalaman rohani Pak Handoyo, pria muallaf etnis Cina kelahiran tahun 1965. Di usia yang makin mendekati uzur, pria asal Semarang Jawa Tengah ini meninggalkan agama Kristen yang sudah dipeluknya selama 50 tahun.
Dua bulan lalu, Pak Han berikrar masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid At-Taqwa Kemanggisan, Slipi Jakarta Barat pada Senin siang (30/3/2015).
Pria yang berprofesi sebagai sales toko di komplek Pasar Pagi Jakarta ini mengawali ketertarikannya terhadap Islam bermula dari keseriusannya menyimak program-program tayangan dakwah di televisi. Di depan layar kaca itulah ia belajar memahami Islam dari ceramah para ustadz papan atas.
Setelah bulat tekad, ia pun menyatakan ikrar masuk Islam dengan bimbingan para ustadz di Masjid At-Taqwa Kemanggisan, antara lain Ustadz Zainuddin, Ustadz Rahmat Hidayat dan Ustadz Darwin.
Hijrah menjadi Muslim bukanlah pilihan tanpa resiko bagi Pak Han. Karena di dalam keluarga ia menjadi orang terasing (ghuroba’), karena berbeda aqidah dengan istri dan anak-anaknya.
Ujian yang terasa berat adalah kehilangan pekerjaan pasca masuk Islam. Karena tak lagi bekerja di Pasar Pagi Jakarta, Pak Han pun pulang ke kampung halamannya sambil mencari peluang kerja.
Selain tak punya pekerjaan, hingga berita ini diturunkan Pak Han belum disunat. Harapan muallaf mantan Kristen ini tidak muluk-muluk. Ia minta bantuan sarana dan prasarana untuk kesempurnaan beribadah. Di bulan Ramadhan yang berkah ini, Pak Han ingin segera dikhitan, memiliki busana muslim dan buku-buku bacaan Islam.
...Di usia yang makin mendekati uzur, Pak Han meninggalkan agama Kristen yang sudah dipeluknya selama 50 tahun. Di bulan Ramadhan yang berkah ini, ia ingin segera dikhitan...
“Kiranya berkenan, saya ingin mengajukan bantuan untuk khitan, membeli kitab-kitab dan peralatan perlengkapan ibadah sebagaimana yang dimiliki kaum muslimin lainnya”, ujar kepada relawan IDC.
Untuk masa depan setelah menempuh hidup baru dalam Islam, Pak Han ingin kembali menekuni wirausaha berdagang alat tulis dan kelontong. Tapi usaha ini terkendala modal usaha. untuk merintis usaha ini diperlukan modal usaha sekitar 11 juta rupiah.
“Rencana saya mau kelilingan jual alat tulis dan kelontong di Jakarta Pak, karena saya sudah tahu tempat-tempatnya di Jakarta. Saya dulu sales Pak,” ujarnya kepada Direktur IDC, Ahad (21/6/2015).

PEDULI KASIH UNTUK MUALLAF
Setelah hijrah menjadi Muslim, Pak Han adalah saudara seiman kita semua. Beban yang dipikul Pak Han adalah beban kita juga. Karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).
Infaq untuk membantu meringankan beban muallaf ini insya Allah akan mengantarkan menjadi pribadi beruntung yang berhak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...” (HR Muslim).
Terlebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bantuan untuk muallaf yang sedang kesulitan akan memiliki banyak keutamaan, setara dengan pahala i’tikaf sebulan penuh di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i'tikaf di masjidku ini selama sebulan” (HR Thabrani dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah RA, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).
Infaq untuk membantu muallaf Pak Han bisa disalurkan melalui program Infaq Produktif IDC:
  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)
CATATAN:
  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 5.000 (lima ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.005.000,- Rp 505.000,- Rp 205.000,- Rp 105.000,- 55.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqdakwahcenter.com.
  • Bila bantuan untuk muallaf Pak Han sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info: 08999.704050, 08567.700020; PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0

Posted at 01.49 |  by Harian Muslim

Minggu, 28 Juni 2015

SOLO, Infaq Dakwah Center (IDC) – Setelah hampir sebulan menjalani perawatan rumah sakit di Solo, Ummi Maryati diperbolehkan pulang ke rumah. Total tagihan Rp 60 juta baru dibayar Rp 25 juta. Untuk menutupi hutang Rp 35 juta butuh uluran tangan kaum muslimin.

Bulan lalu, Selasa pagi (19/5/2015) Ummi Maryati dilarikan ke rumah sakit karena sejak shubuh ia sadarkan diri terduduk di kursi keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Ibu berusia 65 tahun ini kritis karena punya riwayat penyakit jantung.

Selama dirawat di ruang gawat darurat (ICU), Abu Syamil, sang anak, dengan sabar menunggu ibunda tercinta. Kesibukannya di sebuah Pesantren Tahfidz Al-Qur'an untuk sementara dia tinggalkan demi menjaga sang ibu.

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, ternyata sakit kali ini lebih parah dibanding sebelumnya. Menurut dokter, Ummi Maryati mengalami komplikasi. Awalnya adalah penyakit jantung namun kemudian terkena juga penyakit paru dan stroke. Dokter pun memasang ventilator untuk membantu pernafasannya.

Dengan modal nekad, demi kesembuhan sang ibu, pihak keluarga mengusahakan pengobatan terbaik, meski tahu resiko besarnya biaya tinggi yang tak mampu mereka penuhi. Mereka telah mengusahakan prosedur keringanan biaya, tapi biaya masih tinggi. Hingga hari kelima di ICU, tagihan dari rumah sakit sudah mencapai 24 juta rupiah.

Alhamdulillah, tiga pekan setelah dirawat di rumah sakit, kondisi Ummi Maryati berangsur membaik dan diperbolehkan pulang pada Rabu (10/6/2015). Tapi kesehatan Ummi Maryati harus ditebus dengan harga mahal. Total tagihan mencapai Rp 60 juta, baru bisa dibayar Rp 25 juta.

Meski dana kurang Rp 35 juta, Ummi Maryati diizinkan pulang atas jaminan salah seorang ikhwan yang menjadi karyawan di rumah sakit tersebut. Dengan perjanjian kekurangan dana harus dilunasi dalam waktu dua bulan.

...Ditinggal sang suami wafat, ia asuh kedua anak yatimnya yang masih berusia 3 dan 6 tahun. Ketika kedua anaknya sudah baligh, dilepasnya untuk untuk berjihad Ambon membela kaum Muslimin...


 

WANITA HEBAT IBUNDA DUA MUJAHID ISLAM

Di kawasan Mojosongo Solo, Ummi Maryati dikenal sebagai sosok wanita ramah, mandiri dan tak kenal menyerah. Berstatus sebagaisingle parent ditinggal wafat oleh sang suami, ia mengasuh kedua anaknya yang saat itu masih berusia 6 tahun dan 3 tahun.

Pekerjaan sebagai penjahit ia lakoni untuk meyambung hidupnya dan anak-anaknya. Bahkan hingga sebelum dirawat di ICU, Ibu Maryati masih menekuni pekerjaan ini.

Di lingkungan masyarakat, Ummi Maryati aktif mengikuti majelis taklim dan menjadi tim penggerak kegiatan. Di beberapa Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa, beliau juga menjadi relawan pencari dana.

Beberapa saat sebelum opname, meski usianya sudah tua dan kondisinya yang masih sakit, Ummi Maryati tetap bergerak mencari dana untuk Pondok Yatim Dhuafa Al-Maun, Pesantren Yatim Al-Ahad dan Aisyiah. Sebelum dirawat di ICU, ia sempat menitipkan 2 amplop pada putranya dan berpesan agar 2 amplop yang isinya uang donasi itu diserahkan kepada pondok Al-Maun dan Al-Ahad.

Keteladanan yang patut dicontoh dari Ummi Maryati adalah keikhlasannya melepas 2 putranya untuk berjihad di Ambon tahun 1999. Ketika Muslimin Ambon diserang oleh Salibis Ambon, kaum muslimin dari berbagai daerah berangkat ke Ambon untuk membantu saudara-saudara mereka yang terzalimi. Tak terkecuali putra sulungnya yang segera menyambut seruan jihad Ambon tersebut. Ummi Maryati mengikhlaskan buah hatinya demi membela Islam dan kaum muslimin.

Beberapa waktu kemudian, giliran putra bungsu yang menyambut seruan jihad Ambon. Suami sudah tak ada, putra sulung sudah berangkat ke Ambon, Ibu Maryati harus merelakan juga putra keduanya kedua menyusul sang kakak ke Ambon. Ummi Maryati mendukung perjuangan kedua anak yatimnya, karena kondisi Ambon saat itu sedang panas-panasnya. Ummi Maryati pun 'menikmati' kesendiriannya di kota Solo hingga beberapa tahun lamanya sebelum akhirnya putra bungsunya kembali.

Itulah sekilas sosok Ummi Maryati, wanita hebat yang mendarmabaktikan segala yang dimilikinya untuk Islam. Saat ini bunda dua mujahid butuh dana Rp 35 juta untuk melunasi biaya rumah sakit.

...Sebelum dirawat di ICU, ia sempat menitipkan 2 amplop pada putranya dan berpesan agar 2 amplop yang isinya uang donasi itu diserahkan ke dua pesantren...


PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM

Musibah yang dialami oleh Ummi Maryati itu adalah beban kita juga. Karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam" (Muttafaq 'Alaih).

Dengan membantu saudara kita yang tertimpa musibah, insya Allah akan mendatangkan keberkahan, kemudahan dan pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat..." (HR Muslim).

Donasi untuk membantu Ummi Maryati bisa disalurkan melalui program Infaq Darurat IDC:

Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank Mandiri Syar'iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006  a.n Yayasan Infak Dakwah Center.Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497  a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)

CATATAN:

Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.Info: 08567.700020 – 08999.704050PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0.

Ummi Maryati: Ibunda Dua Yatim Mujahid Butuh Rp 35 Juta untuk Melunasi Biaya Rumah Sakit. Ayo Bantu!!!

SOLO, Infaq Dakwah Center (IDC) – Setelah hampir sebulan menjalani perawatan rumah sakit di Solo, Ummi Maryati diperbolehkan pulang ke rumah. Total tagihan Rp 60 juta baru dibayar Rp 25 juta. Untuk menutupi hutang Rp 35 juta butuh uluran tangan kaum muslimin.

Bulan lalu, Selasa pagi (19/5/2015) Ummi Maryati dilarikan ke rumah sakit karena sejak shubuh ia sadarkan diri terduduk di kursi keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Ibu berusia 65 tahun ini kritis karena punya riwayat penyakit jantung.

Selama dirawat di ruang gawat darurat (ICU), Abu Syamil, sang anak, dengan sabar menunggu ibunda tercinta. Kesibukannya di sebuah Pesantren Tahfidz Al-Qur'an untuk sementara dia tinggalkan demi menjaga sang ibu.

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, ternyata sakit kali ini lebih parah dibanding sebelumnya. Menurut dokter, Ummi Maryati mengalami komplikasi. Awalnya adalah penyakit jantung namun kemudian terkena juga penyakit paru dan stroke. Dokter pun memasang ventilator untuk membantu pernafasannya.

Dengan modal nekad, demi kesembuhan sang ibu, pihak keluarga mengusahakan pengobatan terbaik, meski tahu resiko besarnya biaya tinggi yang tak mampu mereka penuhi. Mereka telah mengusahakan prosedur keringanan biaya, tapi biaya masih tinggi. Hingga hari kelima di ICU, tagihan dari rumah sakit sudah mencapai 24 juta rupiah.

Alhamdulillah, tiga pekan setelah dirawat di rumah sakit, kondisi Ummi Maryati berangsur membaik dan diperbolehkan pulang pada Rabu (10/6/2015). Tapi kesehatan Ummi Maryati harus ditebus dengan harga mahal. Total tagihan mencapai Rp 60 juta, baru bisa dibayar Rp 25 juta.

Meski dana kurang Rp 35 juta, Ummi Maryati diizinkan pulang atas jaminan salah seorang ikhwan yang menjadi karyawan di rumah sakit tersebut. Dengan perjanjian kekurangan dana harus dilunasi dalam waktu dua bulan.

...Ditinggal sang suami wafat, ia asuh kedua anak yatimnya yang masih berusia 3 dan 6 tahun. Ketika kedua anaknya sudah baligh, dilepasnya untuk untuk berjihad Ambon membela kaum Muslimin...


 

WANITA HEBAT IBUNDA DUA MUJAHID ISLAM

Di kawasan Mojosongo Solo, Ummi Maryati dikenal sebagai sosok wanita ramah, mandiri dan tak kenal menyerah. Berstatus sebagaisingle parent ditinggal wafat oleh sang suami, ia mengasuh kedua anaknya yang saat itu masih berusia 6 tahun dan 3 tahun.

Pekerjaan sebagai penjahit ia lakoni untuk meyambung hidupnya dan anak-anaknya. Bahkan hingga sebelum dirawat di ICU, Ibu Maryati masih menekuni pekerjaan ini.

Di lingkungan masyarakat, Ummi Maryati aktif mengikuti majelis taklim dan menjadi tim penggerak kegiatan. Di beberapa Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa, beliau juga menjadi relawan pencari dana.

Beberapa saat sebelum opname, meski usianya sudah tua dan kondisinya yang masih sakit, Ummi Maryati tetap bergerak mencari dana untuk Pondok Yatim Dhuafa Al-Maun, Pesantren Yatim Al-Ahad dan Aisyiah. Sebelum dirawat di ICU, ia sempat menitipkan 2 amplop pada putranya dan berpesan agar 2 amplop yang isinya uang donasi itu diserahkan kepada pondok Al-Maun dan Al-Ahad.

Keteladanan yang patut dicontoh dari Ummi Maryati adalah keikhlasannya melepas 2 putranya untuk berjihad di Ambon tahun 1999. Ketika Muslimin Ambon diserang oleh Salibis Ambon, kaum muslimin dari berbagai daerah berangkat ke Ambon untuk membantu saudara-saudara mereka yang terzalimi. Tak terkecuali putra sulungnya yang segera menyambut seruan jihad Ambon tersebut. Ummi Maryati mengikhlaskan buah hatinya demi membela Islam dan kaum muslimin.

Beberapa waktu kemudian, giliran putra bungsu yang menyambut seruan jihad Ambon. Suami sudah tak ada, putra sulung sudah berangkat ke Ambon, Ibu Maryati harus merelakan juga putra keduanya kedua menyusul sang kakak ke Ambon. Ummi Maryati mendukung perjuangan kedua anak yatimnya, karena kondisi Ambon saat itu sedang panas-panasnya. Ummi Maryati pun 'menikmati' kesendiriannya di kota Solo hingga beberapa tahun lamanya sebelum akhirnya putra bungsunya kembali.

Itulah sekilas sosok Ummi Maryati, wanita hebat yang mendarmabaktikan segala yang dimilikinya untuk Islam. Saat ini bunda dua mujahid butuh dana Rp 35 juta untuk melunasi biaya rumah sakit.

...Sebelum dirawat di ICU, ia sempat menitipkan 2 amplop pada putranya dan berpesan agar 2 amplop yang isinya uang donasi itu diserahkan ke dua pesantren...


PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM

Musibah yang dialami oleh Ummi Maryati itu adalah beban kita juga. Karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam" (Muttafaq 'Alaih).

Dengan membantu saudara kita yang tertimpa musibah, insya Allah akan mendatangkan keberkahan, kemudahan dan pertolongan Allah di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat..." (HR Muslim).

Donasi untuk membantu Ummi Maryati bisa disalurkan melalui program Infaq Darurat IDC:

Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank Mandiri Syar'iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422  a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302  a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006  a.n Yayasan Infak Dakwah Center.Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497  a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC)

CATATAN:

Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.Info: 08567.700020 – 08999.704050PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0.

Posted at 02.02 |  by Harian Muslim

MESIR (Panjimas.com) – Malam Lailaitul Qadar pada dasarnya merupakan malam rahasia bagi Allah SWT. Namun ternyata, sejumlah fakta di balik malam Lailatul Qadar itu telah dibuktikan oleh Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA).

Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang paling dinantikan oleh umat Islam diseluruh dunia pada bulan Ramadhan 1436 H ini. Malam Lailatul Qadar menjadi malam yang paling istimewa dan paling indah dibandingkan dengan malam seribu bulan dan menjadi malam dimana Al-Qura'n diturunkan. Dan malam Lailatul Qadar ini ditetapkan ketika 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Selama ini umat Islam mempercayai kebenaran adanya malam Lailatul Qadar karena bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. Namun faktanya, malam Lailatul Qadar ini juga bisa diprediksikan oleh NASA.

Melalui sejumlah fakta ilmiah, NASA membuktikan tanda-tanda hadirnya malam Lailatul Qadar sesuai dengan yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Nabi Muhammad SAW mengatakan jika malam Lailatul Qadar itu hadir di malam-malam ganjil. Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa ketika malam Lailatul Qadar itu hadir, maka suhu dibumi berada dalam kondisi yang sedang, pada malam hari tidak terlihat bintang, serta pada pagi harinya udara matahari bersinar cerah namun tidak terasa panasnya.

Dan dialam semua ungkapan Rasulullah SAW itu, ternyata NASA telah membuktikan semuanya terkait ciri-ciri fisik malam Lailatul Qadar tersebut.

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dan Sunnah di Mesir, Dr Abdul Basith As-Sayyid mengatakan jika sekitar 12 tahun yang lalu, NASA pernah menemukan ciri dari malam Lailatul Qadar sesuai dengan apa yang diungkapkan Nabi Muhammad SAW.

Pada saat membuktikan tanda-tanda malam Lailatul Qadar itu, NASA menemukan bahwa pada suatu malam terjadi fenomena aneh karena tidak ada meteor yang jatuh ke atmosfer bumi serta suhu udara sedang. Padahal pada malam-malam biasa, jumlah meteor yang jatuh ke atmostfer bumi sekitar 20 meteor. Selain itu, NASA juga menemukan bahwa matahari begitu bersinar cerah namun tidak ada radiasi cahaya sekalipun.

Semua fakta-fakta yang di dapatkan oleh pihak NASA ini ternyata memang sengaja untuk tidak dipublikasikan. Bahkan NASA sering mendapat kritikan dari para pakar Islam karena kerap menyembunyikan fakta-fakta kebenaran tentang Al-Qur'an.

Dan dengan pembuktian dari pihak NASA ini, umat Islam harus lebih bersyukur telah terlahir di dunia sebagai umat pilihan, yakni umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki banyak kisah menakjubkan yang ada di dunia ini. [Muhajir/Eram]

Ternyata, NASA Pernah Sembunyikan Temuannya Soal Malam Lailatul Qadar

MESIR (Panjimas.com) – Malam Lailaitul Qadar pada dasarnya merupakan malam rahasia bagi Allah SWT. Namun ternyata, sejumlah fakta di balik malam Lailatul Qadar itu telah dibuktikan oleh Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA).

Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang paling dinantikan oleh umat Islam diseluruh dunia pada bulan Ramadhan 1436 H ini. Malam Lailatul Qadar menjadi malam yang paling istimewa dan paling indah dibandingkan dengan malam seribu bulan dan menjadi malam dimana Al-Qura'n diturunkan. Dan malam Lailatul Qadar ini ditetapkan ketika 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Selama ini umat Islam mempercayai kebenaran adanya malam Lailatul Qadar karena bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits. Namun faktanya, malam Lailatul Qadar ini juga bisa diprediksikan oleh NASA.

Melalui sejumlah fakta ilmiah, NASA membuktikan tanda-tanda hadirnya malam Lailatul Qadar sesuai dengan yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Nabi Muhammad SAW mengatakan jika malam Lailatul Qadar itu hadir di malam-malam ganjil. Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa ketika malam Lailatul Qadar itu hadir, maka suhu dibumi berada dalam kondisi yang sedang, pada malam hari tidak terlihat bintang, serta pada pagi harinya udara matahari bersinar cerah namun tidak terasa panasnya.

Dan dialam semua ungkapan Rasulullah SAW itu, ternyata NASA telah membuktikan semuanya terkait ciri-ciri fisik malam Lailatul Qadar tersebut.

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dan Sunnah di Mesir, Dr Abdul Basith As-Sayyid mengatakan jika sekitar 12 tahun yang lalu, NASA pernah menemukan ciri dari malam Lailatul Qadar sesuai dengan apa yang diungkapkan Nabi Muhammad SAW.

Pada saat membuktikan tanda-tanda malam Lailatul Qadar itu, NASA menemukan bahwa pada suatu malam terjadi fenomena aneh karena tidak ada meteor yang jatuh ke atmosfer bumi serta suhu udara sedang. Padahal pada malam-malam biasa, jumlah meteor yang jatuh ke atmostfer bumi sekitar 20 meteor. Selain itu, NASA juga menemukan bahwa matahari begitu bersinar cerah namun tidak ada radiasi cahaya sekalipun.

Semua fakta-fakta yang di dapatkan oleh pihak NASA ini ternyata memang sengaja untuk tidak dipublikasikan. Bahkan NASA sering mendapat kritikan dari para pakar Islam karena kerap menyembunyikan fakta-fakta kebenaran tentang Al-Qur'an.

Dan dengan pembuktian dari pihak NASA ini, umat Islam harus lebih bersyukur telah terlahir di dunia sebagai umat pilihan, yakni umat Nabi Muhammad SAW yang memiliki banyak kisah menakjubkan yang ada di dunia ini. [Muhajir/Eram]

Posted at 01.19 |  by Harian Muslim

Jumat, 26 Juni 2015

APAKAH Anda telah mengetahui bagaimana ruh kita jika telah meninggal nanti? Apa saja yang akan dilakukan ruh? Apakah dia akan bagaikan orang yang hidup di dunia? Wallahu Alam. Namun, agar kita mengetahuinya, Rasulullah SAW telah banyak menerangkan dan memberitahu pada kita yang berkaitan dengan ruh. Berikut ini penjelasannya berdasarkan hadits-hadits Rasulullah.

a. “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai Surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi’,” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

b. “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu,” (HR. Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).

c. Orang yang telah meninggal saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya. Nabi SAW bersabda:
“Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rasulullah SAW?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon, sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing’,” (HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).

d. Orang yang telah meninggal merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:
“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendo’akannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu,” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubur).

e. Orang yang telah meninggal mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

1. “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: ‘Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami’,” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

2. “Seluruh amal perbuatan dilaporkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orang tua pada hari Jumat. Mereka merasa gembiran dengan perbuatan baik orang-orang yang masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang yang telah meninggal dunia,” (HR. Tirmidzi dalam kitab Nawadirul Ushul).

f. Orang yang beriman akan hidup di dalam surga bersama anak-cucu dan keturunan mereka yang shaleh. Hal ini telah Allah jelaskan dalam QS. At-Thur: 21
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Sumber: 1001 Siksa Alam Kubur/Ust. Asan Sani ar Rafif/Kunci Iman/Jakarta/2014

Keadaan Ruh Setelah Manusia Meninggal

APAKAH Anda telah mengetahui bagaimana ruh kita jika telah meninggal nanti? Apa saja yang akan dilakukan ruh? Apakah dia akan bagaikan orang yang hidup di dunia? Wallahu Alam. Namun, agar kita mengetahuinya, Rasulullah SAW telah banyak menerangkan dan memberitahu pada kita yang berkaitan dengan ruh. Berikut ini penjelasannya berdasarkan hadits-hadits Rasulullah.

a. “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai Surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi’,” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

b. “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu,” (HR. Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).

c. Orang yang telah meninggal saling kunjung-mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya. Nabi SAW bersabda:
“Ummu Hani bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Apakah kita akan saling mengunjungi jika kita telah mati, dan saling melihat satu dengan yang lainnya wahai Rasulullah SAW?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ruh akan menjadi seperti burung yang terbang, bergelantungan di sebuah pohon, sampai jika datang hari kiamat, setiap roh akan masuk ke dalam jasadnya masing-masing’,” (HR. Ahmad dan Thabrani dengan sanad baik).

d. Orang yang telah meninggal merasa senang kepada orang yang menziarahinya, dan merasa sedih kepada orang yang tidak menziarahinya. Nabi SAW bersabda:
“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendo’akannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu,” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubur).

e. Orang yang telah meninggal mengetahui keadaan dan perbuatan orang yang masih hidup, bahkan mereka merasakan sedih atas perbuatan dosa orang yang masih hidup dari kalangan keluarganya dan merasa gembira atas amal shaleh mereka. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

1. “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: ‘Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami’,” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

2. “Seluruh amal perbuatan dilaporkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis, dan diperlihatkan kepada para orang tua pada hari Jumat. Mereka merasa gembiran dengan perbuatan baik orang-orang yang masih hidup, wajah mereka menjadi tambah bersinar terang. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian menyakiti orang-orang yang telah meninggal dunia,” (HR. Tirmidzi dalam kitab Nawadirul Ushul).

f. Orang yang beriman akan hidup di dalam surga bersama anak-cucu dan keturunan mereka yang shaleh. Hal ini telah Allah jelaskan dalam QS. At-Thur: 21
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Sumber: 1001 Siksa Alam Kubur/Ust. Asan Sani ar Rafif/Kunci Iman/Jakarta/2014

Posted at 23.04 |  by Harian Muslim

Harianmuslim.com– Luxembourg. PM Luxembourg, Xavier Bettel, akhirnya menikahi pasangan sejenisnya dan menjadi pemimpin pertama di Uni Eropa yang menikah dengan pasangan sesama jenis sewaktu masih berkuasa.

Sebagaimana dilansir BBC (26/7/2015), Bettel menikahi pasangannya, Gauthier Destenay, dalam sebuah upacara pernikahan yang tertutup di Balai Kota Luxembourg.

Pernikahan itu terjadi setelah pada Juni 2014 lalu parlemen negara tersebut meloloskan undang-undang yang memperbolehkan pasangan sesama jenis untuk menikah.

Di Uni Eropa, Bettel adalah pemimpin pertama yang menikah dengan pasangan sesama jenis saat masih berkuasa. Sebelumnya, Elio di Rupo menikah dengan pasangan gay ketika telah lengser dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Belgia.

Adapun di dunia, pemimpin yang pertama kali menikah dengan pasangan sesama jenis ialah PM Islandia, Johanna Sigurdardottir, pada 2010 lalu. (bbc/rem/dakwatuna)

Redaktur: Rio Erismen

PM Eropa Ini Umumkan Pernikahan Sejenisnya

Harianmuslim.com– Luxembourg. PM Luxembourg, Xavier Bettel, akhirnya menikahi pasangan sejenisnya dan menjadi pemimpin pertama di Uni Eropa yang menikah dengan pasangan sesama jenis sewaktu masih berkuasa.

Sebagaimana dilansir BBC (26/7/2015), Bettel menikahi pasangannya, Gauthier Destenay, dalam sebuah upacara pernikahan yang tertutup di Balai Kota Luxembourg.

Pernikahan itu terjadi setelah pada Juni 2014 lalu parlemen negara tersebut meloloskan undang-undang yang memperbolehkan pasangan sesama jenis untuk menikah.

Di Uni Eropa, Bettel adalah pemimpin pertama yang menikah dengan pasangan sesama jenis saat masih berkuasa. Sebelumnya, Elio di Rupo menikah dengan pasangan gay ketika telah lengser dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Belgia.

Adapun di dunia, pemimpin yang pertama kali menikah dengan pasangan sesama jenis ialah PM Islandia, Johanna Sigurdardottir, pada 2010 lalu. (bbc/rem/dakwatuna)

Redaktur: Rio Erismen

Posted at 21.22 |  by Harian Muslim

AS dikabarkan tengah menyiapkan dana senilai 360 juta USD bantuan menyelamatkan jiwa bagi korban perang sipil Suriah. Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (25/6/2015) telah membawa total bantuan untuk Suriah menjadi 4 miliar USD sejak pertempuran dimulai.

Sebagian bantuan ini akan digunakan untuk mendukung berbagai program PBB dan organisasi non-pemerintah di Suriah. Lebih dari 230 ribu orang telah meninggal sejak terjadi konflik dan demonstrasi anti-pemerintah pada Maret 2011, alarabiya melaporkan pada Jumat (26/6/2015).

“Pendanaan baru sebagian yang akan dipenuhi pada 2015 dari target bantuan senilai 84 miliar USD dari PBB untuk Suriah dan wilayah sekitarna. Sayangnya, dengan kontribusi dari kami sampai saat ini, PBB masih kekurangan,” kata pejabat Departemen Luar Negeri AS.

“Penderitaan dan kebutuhan rakyat Suriah terus meningkat ke tingkat yang tak pernah terpikirkan. Pada 2015, kebutuhan kemanusiaan akan terus tumbuh,” tambah pejabat ini. [sm/islampos]

Rakyat Suriah Masih Perlu Banyak Bantuan

AS dikabarkan tengah menyiapkan dana senilai 360 juta USD bantuan menyelamatkan jiwa bagi korban perang sipil Suriah. Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (25/6/2015) telah membawa total bantuan untuk Suriah menjadi 4 miliar USD sejak pertempuran dimulai.

Sebagian bantuan ini akan digunakan untuk mendukung berbagai program PBB dan organisasi non-pemerintah di Suriah. Lebih dari 230 ribu orang telah meninggal sejak terjadi konflik dan demonstrasi anti-pemerintah pada Maret 2011, alarabiya melaporkan pada Jumat (26/6/2015).

“Pendanaan baru sebagian yang akan dipenuhi pada 2015 dari target bantuan senilai 84 miliar USD dari PBB untuk Suriah dan wilayah sekitarna. Sayangnya, dengan kontribusi dari kami sampai saat ini, PBB masih kekurangan,” kata pejabat Departemen Luar Negeri AS.

“Penderitaan dan kebutuhan rakyat Suriah terus meningkat ke tingkat yang tak pernah terpikirkan. Pada 2015, kebutuhan kemanusiaan akan terus tumbuh,” tambah pejabat ini. [sm/islampos]

Posted at 18.49 |  by Harian Muslim

Ada seorang berinisial ARD bertanya:

Assalaamu’alaaikum.

Apa perbedaan jasa percaloan jasa dengan risywah? Kapan percaloan menjadi halal? Bagaimana membedakan suap dengan uang jasa yang diberikan oleh orang yang di beri pekerjaan?

Syukron

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabatakatuh.

Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

Hukum asal menjadi perantara atau calo, jika orang yang meminta untuk diperantarai dan orang yang menjadi perantara (calo) sama-sama ridha, maka hal tersebut diperbolehkan. Hal ini termasuk bentuk tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Adapun akad yang dipakai dalam transaksi ini adalah akad ijarah atau sewa menyewa jasa atau menggunakan akad ja’alah/ji’alah (bayar jasa jika berhasil melakukan sesuatu yang diperintahkan). Perantara (calo) mendapatkan bayaran atas jasa yang dia lakukan.

Oleh karena itu, Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat satu bab di dalam kitab Shahih beliau, Bab Ajri As-Samsarah (Bab Upah perantara). Kemudian beliau mengatakan, “Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim dan Al-Hasan memandang upah perantara tidak mengapa.” Beliau juga membawakan atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

لاَ بَأْسَ أَنْ يَقُولَ بِعْ هَذَا الثَّوْبَ فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا فَهُوَ لَكَ

“Tidak mengapa seorang berkata, ‘Jual baju ini! Tambahan yang melebihi ini dan ini maka ini menjadi milikmu.’.”

Ibnu Sirin mengatakan:

إِذَا قَالَ بِعْهُ بِكَذَا فَمَا كَانَ مِنْ رِبْحٍ فَهْوَ لَكَ ، أَوْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ

“Apabila seseorang berkata, ‘Juallah ini dengan harga sekian, apabila ada untung maka itu menjadi milikmu atau keuntungannya dibagi antara kita berdua,’ maka hukumnya tidak mengapa.”[1]

Percaloan tidak hanya terjadi pada jual beli barang, tetapi juga bisa terjadi pada jual beli jasa, seperti eseorang yang ingin dibangunkan rumahnya meminta kepada seseorang untuk mencarikan tukang bangunan, kemudian dia mendapatkan upah karena telah mencarikan tukang tersebut.

Akan tetapi, perantara bisa saja diharamkan karena beberapa hal, seperti: merusak harga pasar, menzalimi pihak yang meminta jasanya atau melanggar aturan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli Al-Hadhir lil-Baadi (orang kota menjualkan barang penduduk pedalaman), yaitu perantara mendatangi orang-orang penduduk pedalaman untuk menjualkan barang mereka di pasar, kemudian perantara menjualnya dengan harga yang lebih mahal dan tidak diketahui oleh penduduk pedalaman tersebut. Selain dapat menzalimi pemilik barang, maka orang-orang yang berada di pasar tidak bisa menikmati harga yang murah, berbeda jika penduduk pedalaman menjualnya langsung ke pasar.

Inilah yang dimaksudkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thawus dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَلَقَّى الرُّكْبَانُ ، وَلاَ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ

“Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang talaqqi ar-rukban[2] dan seorang yang datang dari kota tidak menjualkan barang-barang penduduk pedalaman.” Thawus berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Apa arti perkataan ‘seorang yang datang dari kota tidak menjualkan barang-barang penduduk pedalaman.’.” Beliau menjawab, “Yaitu tidak menjadi perantara untuknya.”[3]

Jadi hadits ini tidak mengharamkan jasa perantara secara mutlak.

Begitu pula jika menjadi perantara (calo) melanggar aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, suatu lembaga/organisasi/perusahaan atau sejenisnya maka hal tersebut tidak diperbolehkan, baik karena tidak taat kepada peraturan atau melanggar perjanjian kerjasama.

Adapun risywah (suap) ada banyak jenisnya. Dan termasuk risywah adalah menerima hadiah atau upah atas jasa yang dia berikan karena jabatan yang dia miliki. Barang atau pekerjaan tidak bisa masuk ke dalam perusahaan atau lembaga kecuali dengan persetujuannya, kemudian dia mengambil kesempatan untuk mendapatkan upah atas jasa untuk memasukkan barang atau pekerjaan tersebut.

Begitu pula dengan hadiah yang tidak dipersyaratkan. Jika seorang mendapatkan jatah pekerjaan atau kesempatan untuk memasok barang di perusahaan atau lembaga, kemudian dia memberikan hadiah kepada orang yang memiliki jabatan terkait pekerjaannya tersebut, maka ini termasuk risywah (suap), karena tidak mungkin dia dapatkan hadiah tersebut kecuali karena jabatannya.
Diriwayatkan dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

 اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً مِنْ بَنِي أَسَدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْمِنْبَرِ- قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ – فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلاَّ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempekerjakan seseorang dari Bani Asad, yang bernama Ibnu Al-Utabiyyah, untuk mengurus sedekah. Ketika dia datang, dia berkata, ‘Ini untuk kalian dan ini adalah hadiah untukku.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar … Kemudian beliau memuji Allah dan mengangungkan-Nya dan berkata, ‘Ada apa dengan seseorang pekerja yang kami utus (untuk mengambil sedekah), dia datang dan mengatakan bahwa ini untukmu dan ini untukku. Cobalah dia duduk di rumah bapak dan ibunya, dan dia tunggu, apakah dia akan diberikan hadiah ataukah tidak?”[4]

Oleh karena itu, orang yang bekerja menjadi pegawai dan telah digaji oleh perusahaan atau lembaga harus benar-benar memperhatikan hal ini dan tidak bermudah-mudah, karena dosa risywah (suap-menyuap) termasuk dosa besar.

‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu berkata:

 لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap.”[5]
Adapun jabatan yang didapatkan di lembaga sosial, kemanusiaan atau sejenisnya yang di sana dia tidak digaji, maka tetap saja hukumnya sama dengan lembaga yang dia digaji, yaitu dikategorikan risywah atau khianat, karena hal ini menuntut keridhaan pihak-pihak yang terlibat di dalam lembaga sosial/kemanusiaan tersebut. Secara aturan lembaga, apakah pihak-pihak di dalam lembaga tersebut ridha atau tidak? Jika mereka ridha maka itu dianggap sebagai upah yang halal baginya, jika tidak ridha maka tidak boleh, karena jabatan tersebut didapatkan atas dasar sukarela dan tanpa pamrih.
Allahu a’lam bishshawab. Billahittaufiq.

Dijawab oleh: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc, MA

Keterangan:

[1] Lihat Bab dan atsar beliau sebelum hadits no. 2274.

[2] Mencegat para pedagang yang datang dari luar dan membeli barang dari mereka dengan harga yang lebih murah dari pasar.

[3] HR Al-Bukhari 2274 dan Muslim no. 3900

[4] HR Al-Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 4843.

[5] HR Abu Dawud no. 3582 dan At-Tirmidzi no. 1337, ini lafaz mereka. Dan Ibnu Majah no. 2313 dengan lafaz: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Laknat Allah kepada yang menyuap dan yang disuap.”

Perbedaan Antara Jasa Percaloan dan Suap

Ada seorang berinisial ARD bertanya:

Assalaamu’alaaikum.

Apa perbedaan jasa percaloan jasa dengan risywah? Kapan percaloan menjadi halal? Bagaimana membedakan suap dengan uang jasa yang diberikan oleh orang yang di beri pekerjaan?

Syukron

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabatakatuh.

Alhamdulillah washshalatu wassalam ‘ala Rasulillah.

Hukum asal menjadi perantara atau calo, jika orang yang meminta untuk diperantarai dan orang yang menjadi perantara (calo) sama-sama ridha, maka hal tersebut diperbolehkan. Hal ini termasuk bentuk tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Adapun akad yang dipakai dalam transaksi ini adalah akad ijarah atau sewa menyewa jasa atau menggunakan akad ja’alah/ji’alah (bayar jasa jika berhasil melakukan sesuatu yang diperintahkan). Perantara (calo) mendapatkan bayaran atas jasa yang dia lakukan.

Oleh karena itu, Imam Al-Bukhari rahimahullah membuat satu bab di dalam kitab Shahih beliau, Bab Ajri As-Samsarah (Bab Upah perantara). Kemudian beliau mengatakan, “Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim dan Al-Hasan memandang upah perantara tidak mengapa.” Beliau juga membawakan atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

لاَ بَأْسَ أَنْ يَقُولَ بِعْ هَذَا الثَّوْبَ فَمَا زَادَ عَلَى كَذَا وَكَذَا فَهُوَ لَكَ

“Tidak mengapa seorang berkata, ‘Jual baju ini! Tambahan yang melebihi ini dan ini maka ini menjadi milikmu.’.”

Ibnu Sirin mengatakan:

إِذَا قَالَ بِعْهُ بِكَذَا فَمَا كَانَ مِنْ رِبْحٍ فَهْوَ لَكَ ، أَوْ بَيْنِي وَبَيْنَكَ فَلاَ بَأْسَ بِهِ

“Apabila seseorang berkata, ‘Juallah ini dengan harga sekian, apabila ada untung maka itu menjadi milikmu atau keuntungannya dibagi antara kita berdua,’ maka hukumnya tidak mengapa.”[1]

Percaloan tidak hanya terjadi pada jual beli barang, tetapi juga bisa terjadi pada jual beli jasa, seperti eseorang yang ingin dibangunkan rumahnya meminta kepada seseorang untuk mencarikan tukang bangunan, kemudian dia mendapatkan upah karena telah mencarikan tukang tersebut.

Akan tetapi, perantara bisa saja diharamkan karena beberapa hal, seperti: merusak harga pasar, menzalimi pihak yang meminta jasanya atau melanggar aturan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli Al-Hadhir lil-Baadi (orang kota menjualkan barang penduduk pedalaman), yaitu perantara mendatangi orang-orang penduduk pedalaman untuk menjualkan barang mereka di pasar, kemudian perantara menjualnya dengan harga yang lebih mahal dan tidak diketahui oleh penduduk pedalaman tersebut. Selain dapat menzalimi pemilik barang, maka orang-orang yang berada di pasar tidak bisa menikmati harga yang murah, berbeda jika penduduk pedalaman menjualnya langsung ke pasar.

Inilah yang dimaksudkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thawus dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَلَقَّى الرُّكْبَانُ ، وَلاَ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ

“Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang talaqqi ar-rukban[2] dan seorang yang datang dari kota tidak menjualkan barang-barang penduduk pedalaman.” Thawus berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Apa arti perkataan ‘seorang yang datang dari kota tidak menjualkan barang-barang penduduk pedalaman.’.” Beliau menjawab, “Yaitu tidak menjadi perantara untuknya.”[3]

Jadi hadits ini tidak mengharamkan jasa perantara secara mutlak.

Begitu pula jika menjadi perantara (calo) melanggar aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, suatu lembaga/organisasi/perusahaan atau sejenisnya maka hal tersebut tidak diperbolehkan, baik karena tidak taat kepada peraturan atau melanggar perjanjian kerjasama.

Adapun risywah (suap) ada banyak jenisnya. Dan termasuk risywah adalah menerima hadiah atau upah atas jasa yang dia berikan karena jabatan yang dia miliki. Barang atau pekerjaan tidak bisa masuk ke dalam perusahaan atau lembaga kecuali dengan persetujuannya, kemudian dia mengambil kesempatan untuk mendapatkan upah atas jasa untuk memasukkan barang atau pekerjaan tersebut.

Begitu pula dengan hadiah yang tidak dipersyaratkan. Jika seorang mendapatkan jatah pekerjaan atau kesempatan untuk memasok barang di perusahaan atau lembaga, kemudian dia memberikan hadiah kepada orang yang memiliki jabatan terkait pekerjaannya tersebut, maka ini termasuk risywah (suap), karena tidak mungkin dia dapatkan hadiah tersebut kecuali karena jabatannya.
Diriwayatkan dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

 اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً مِنْ بَنِي أَسَدٍ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الأُتَبِيَّةِ عَلَى صَدَقَةٍ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَقَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى الْمِنْبَرِ- قَالَ سُفْيَانُ أَيْضًا فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ – فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِي فَهَلاَّ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempekerjakan seseorang dari Bani Asad, yang bernama Ibnu Al-Utabiyyah, untuk mengurus sedekah. Ketika dia datang, dia berkata, ‘Ini untuk kalian dan ini adalah hadiah untukku.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar … Kemudian beliau memuji Allah dan mengangungkan-Nya dan berkata, ‘Ada apa dengan seseorang pekerja yang kami utus (untuk mengambil sedekah), dia datang dan mengatakan bahwa ini untukmu dan ini untukku. Cobalah dia duduk di rumah bapak dan ibunya, dan dia tunggu, apakah dia akan diberikan hadiah ataukah tidak?”[4]

Oleh karena itu, orang yang bekerja menjadi pegawai dan telah digaji oleh perusahaan atau lembaga harus benar-benar memperhatikan hal ini dan tidak bermudah-mudah, karena dosa risywah (suap-menyuap) termasuk dosa besar.

‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu berkata:

 لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap.”[5]
Adapun jabatan yang didapatkan di lembaga sosial, kemanusiaan atau sejenisnya yang di sana dia tidak digaji, maka tetap saja hukumnya sama dengan lembaga yang dia digaji, yaitu dikategorikan risywah atau khianat, karena hal ini menuntut keridhaan pihak-pihak yang terlibat di dalam lembaga sosial/kemanusiaan tersebut. Secara aturan lembaga, apakah pihak-pihak di dalam lembaga tersebut ridha atau tidak? Jika mereka ridha maka itu dianggap sebagai upah yang halal baginya, jika tidak ridha maka tidak boleh, karena jabatan tersebut didapatkan atas dasar sukarela dan tanpa pamrih.
Allahu a’lam bishshawab. Billahittaufiq.

Dijawab oleh: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc, MA

Keterangan:

[1] Lihat Bab dan atsar beliau sebelum hadits no. 2274.

[2] Mencegat para pedagang yang datang dari luar dan membeli barang dari mereka dengan harga yang lebih murah dari pasar.

[3] HR Al-Bukhari 2274 dan Muslim no. 3900

[4] HR Al-Bukhari no. 7174 dan Muslim no. 4843.

[5] HR Abu Dawud no. 3582 dan At-Tirmidzi no. 1337, ini lafaz mereka. Dan Ibnu Majah no. 2313 dengan lafaz: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Laknat Allah kepada yang menyuap dan yang disuap.”

Posted at 15.54 |  by Harian Muslim
(c)2013 HarianMuslim.com I Warta Islam Digital Terkini. Seluruh materi di situs HarianMuslim.com boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah
© 2013 harianmuslim.com...
back to top